Koransakti.co.id – Di balik keharumannya yang mendunia, kayu gaharu atau oud memiliki nilai historis dan religius yang sangat tinggi. Wewangian yang menjadi favorit Nabi Muhammad SAW ini ternyata merupakan tanaman asli dari daratan Nusantara, Indonesia.
Bagi umat Muslim, kebersihan dan keharuman adalah bagian dari ibadah. Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW menekankan pentingnya menggunakan wewangian bagi setiap Muslim. Istri Nabi, Aisyah RA, memberikan kesaksian bahwa aroma yang paling di cintai Rasulullah adalah ud atau kayu gaharu.
Emas Hitam dari Hutan Indonesia
Gaharu bukan sekadar kayu biasa. Aroma harumnya muncul melalui proses biologis yang unik, yakni ketika pohon dari genus Aquilaria mengalami infeksi jamur atau mikroba. Sebagai bentuk pertahanan diri, pohon tersebut menghasilkan resin aromatik yang sangat wangi.
Menariknya, kayu ini bukan tanaman asli Timur Tengah. Sejarah mencatat jalur dagang Arab-Nusantara telah aktif sejak abad ke-6 Masehi. Hal ini membuka kemungkinan besar bahwa gaharu yang digunakan di dunia Arab pada masa awal Islam berasal dari wilayah Sumatra dan sekitarnya.
Harga Fantastis di Pasar Dunia
Kelangkaan biologis—di mana hanya 7-10% pohon yang terinfeksi secara alami—membuat harga gaharu melambung tinggi.
Pasar Domestik: Mencapai Rp 53 juta per kilogram.
Pasar Internasional: Bisa melonjak hingga Rp 133 juta per kilogram.
Bahkan dalam literatur kolonial tahun 1906, Aquilaria Agallocha disebut sebagai tanaman asli Sumatra yang resinnya dikirim ke Timur Tengah sebagai bahan baku parfum premium.
Ironi di Balik Keharuman: Terancam Punah
Namun, kabar duka menyertai popularitas “Emas Hitam” ini. Riset terbaru tahun 2025 mengungkap bahwa tingginya konsumsi gaharu tidak sebanding dengan upaya konservasi.
Dua spesies utama asal Indonesia, Aquilaria malaccensis dan Aquilaria filaria, kini berstatus terancam punah. Sebanyak 70% perdagangan gaharu global berasal dari spesies tersebut, namun eksploitasi besar-besaran tanpa langkah preventif mengancam keberadaannya di masa depan.
Jika tidak ada tindakan nyata untuk melestarikan tanaman ini, wewangian favorit Nabi yang berasal dari tanah air kita sendiri terancam hanya akan menjadi cerita di dalam buku sejarah.
Tips Mengenali Keaslian Kayu Gaharu (Oud) untuk Pemula
Mengingat harganya yang sangat mahal, banyak beredar gaharu sintetis atau “gaharu suntikan” di pasaran. Berikut cara sederhana membedakannya:
Uji Bakar: Ambil sedikit serpihan kayu dan bakar. Gaharu asli akan mengeluarkan minyak (resin) yang mendidih di permukaan kayu dan mengeluarkan aroma yang menenangkan, bukan bau kayu terbakar atau bau asap yang menyengat.
Aroma yang Bertingkat: Aroma gaharu asli memiliki “layer” atau tingkatan. Awalnya mungkin terasa tajam, namun lama-kelamaan akan berubah menjadi manis, woody, dan bertahan sangat lama di ruangan maupun pakaian.
Warna yang Tidak Merata: Kayu gaharu yang terbentuk alami biasanya memiliki corak warna hitam atau cokelat tua yang tidak merata karena mengikuti alur infeksi jamur pada batang pohon. Jika warnanya terlalu hitam pekat dan merata secara sempurna, ada kemungkinan itu adalah kayu biasa yang dicat atau disuntik zat kimia.
Uji Tenggelam: Gaharu berkualitas tinggi (Kelas Super) yang kaya akan resin biasanya akan tenggelam jika dimasukkan ke dalam air karena massa jenisnya yang berat akibat kandungan minyak yang padat.















