Koran sakti.co.id, Kerinci – Manajer Humas PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), H. Asroli Ilham, menegaskan bahwa penurunan muka air Danau Kerinci pada awal Januari 2026 merupakan fenomena alami yang di pengaruhi oleh kondisi iklim, khususnya rendahnya curah hujan di daerah tangkapan air danau.
Hal tersebut di sampaikan Asroli saat kegiatan coffee morning bersama media dan LSM di Hotel Mahkota Sungai Penuh, Kamis (5/2).
Dalam paparannya, Asroli menjelaskan bahwa perusahaan secara rutin melakukan pemantauan elevasi Danau Kerinci sejak awal Januari 2026.
Pemantauan tersebut meliputi grafik elevasi permukaan air, inflow atau debit air masuk, serta outflow atau debit air keluar danau.
“Data yang kami miliki menunjukkan penurunan muka air berlangsung secara bertahap dan masih dalam batas normal. Tidak di temukan pola ekstrem yang mengindikasikan pelepasan air berlebihan,” ujar Asroli.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan air PLTA Merangin memang mencapai sekitar 100 meter kubik per detik. Namun, pasokan air tersebut tidak sepenuhnya bersumber dari Danau Kerinci. Secara teknis, kontribusi air dari danau hanya sekitar 40 persen.
“Selebihnya berasal dari Sungai Batang Merangin dan anak-anak sungainya. Jadi, anggapan bahwa PLTA sepenuhnya bergantung pada Danau Kerinci perlu di luruskan,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa berdasarkan grafik elevasi muka air, inflow, dan outflow danau, pengeluaran air dari Danau Kerinci di jaga relatif stabil dan di sesuaikan dengan ketersediaan air yang masuk.
Tidak di temukan adanya pola pelepasan air yang berlebihan ataupun kebijakan operasional yang menyebabkan penurunan muka air danau secara signifikan.
“Aspek ini penting untuk di pahami bersama, bahwa outflow danau di kelola secara hati-hati dan adaptif mengikuti kondisi hidrologi yang ada,” jelasnya
Asroli juga mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi penyusutan muka air danau saat ini adalah sudah terjadi sedimen terutama di sungai Sanggaran Agung, lalu rendahnya curah hujan di wilayah tangkapan air karena Kebijakan modifikasi cuaca di wilayah Sumatera yang bertujuan menekan potensi hujan ekstrem. Kondisi tersebut menyebabkan inflow air yang masuk ke Danau Kerinci menjadi rendah dan tidak stabil.
Meski demikian, Aslori memastikan bahwa debit air keluar dari danau tetap di kendalikan dan di sesuaikan dengan ketersediaan air yang masuk. Tidak ada pelepasan air yang di lakukan tanpa perhitungan teknis.
“Secara hidrologis, penurunan muka air Danau Kerinci pada periode ini merupakan respons alami terhadap kondisi iklim dan curah hujan yang rendah,” tegas Asroli.
Melalui pemaparan berbasis data ini, Asroli berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh dan objektif mengenai kondisi Danau Kerinci saat ini. (Emi)



Asroli juga mengatakan beberapa faktor yang mempengaruhi penyusutan muka air danau saat ini adalah sudah terjadi sedimen terutama di sungai Sanggaran Agung, lalu rendahnya curah hujan di wilayah tangkapan air karena Kebijakan modifikasi cuaca di wilayah Sumatera yang bertujuan menekan potensi hujan ekstrem. Kondisi tersebut menyebabkan inflow air yang masuk ke Danau Kerinci menjadi rendah dan tidak stabil.











