Oleh : Dedi Asikin
Koran Sakti.co.id- Tahun 2006 terbit sebuah buku yang bikin gempar.
Buku berjudul Misteri Supersemar itu ditulis wartawan dan seniman Eros Djarot, mengungkap misteri dan keganjilan keganjilan Surat Perintah 11 Maret 1966.
Eros mengungkap hasil wawancara tabloid Detak yang dipimpinnya.
Keterangan beberapa pihak yang kontroversi. Ada indikasi pemalsuan dan penghilang jejak.
Sebenarnya di tubuh pemerintahan kasus itu sudah terungkap sejak tahun 2000.
Waktu itu (tahun 2000) wakil presiden Megawati meminta Arsip Nasional RI, ANRI mencari arsif Surat Perintah 11 Maret.
Kepala ANRI waktu itu Dr.Muchlis Paeni melaporkan ada dua versi Supersemar yang ada, yaitu versi Sekretariat Negara dan Dinas Penerangan TNI.
Kedua duanya memiliki otentikasi berbeda. Ada dugaan dua duanya palsu.
ANRI kata Muchlis pernah menanyakan langsung kepada M. Yusuf, salah seorang dari pelaku yang masih ada. Tapi M. Yusuf menjawab bahwa Super Semar yang asli ada di Setneg. Dia sendiri tidak memegangnya .
Tapi kemudian ada pihak keluarga M. Yusuf yang menyebut Super Semar itu ada di pak Yusuf dan simpan di sebuah Bank.
Ternyata heboh soal misteri Super Semar itu merembet ke luar tubuh pemerintahan.
Dan jadi trending topik setelah ditulis jadi buku oleh Eros Djarot.
Yang pasti dua surat yang ada di ANRI sudah dinyatakan palsu menurut hasil pemeriksaan laboratorium forensik mabes polri tahun 2012.
Kemana bisa begitu, kemana yang asli ? Kenapa dipalsukan ?
Ini yang masih misterius.
Ada cerita Mayor Aloysius Sugianto. Dia itu staf dan kepercayaan Letkol Ali Murtopo di Kostrad.
Kata dia tanggal 11 Maret 1966 itu, tiga Jenderal, Mayjen Basuki Rahmat, Brigjen M Yusuf tiba di Kostrad malam. Langsung bertemu Pangkostrad yang sudah diangkat jadi Panglima Angkatan Darat Letjen Suharto yang sudah menunggu disana.
Malam itu juga diadakan rapat di Makostrad.
Hadir hampir semua pejabat utama Terutama yang berkaitan dengan masalah politik.
Ali Murtopo tiba tiba menyodorkan dua lembar surat kepada Sugianto disertai perintah, tolong gandakan dan cepat kembali.
Itulah surat yang baru diterima Jendral Suharto dari 3 orang jendral yang baru pulang dari istana Bogor. Surat itu yang kemudian dikenal sebagai Super Semar, Surat Perintah 11 Maret.
Pake singkatan Semar , mungkin ngarep tuah dari nama Semar dalam mitologi Jawa Semar itu tokoh punakawan di negara Ngastina dalam cerita wayang.
Meski begitu dia diyakini sebagai penjelmaan dewa.
Hidupnya penuh keteladan. Jujur dan sederhana.
Sugianto berangkat memakai jip dikawal seorang anggota CPM.
Keliling sana sini seputar kota Jakarta mencari studio foto yang masih buka.
Tapi tak nemu juga. Soalnya sudah malam dan di Jakarta diberlakukan jam malam.
Lalu dia yang tahun 2013 sudah berusia 85 tahun dan pensiun dengan pangkat kolonel itu, memutuskan untuk menggedor rumah Jerry Albert Sumendap pengusaha asal Manado Sulawesi Utara di jalan Lombok Menteng Jakarta pusat.
Sugianto yakin Jerry bisa diandalkan dalam situasi darurat begitu.
Kerena sering ke luar negeri dia punya banyak peralatan canggih.
Beruntung Jerry ada di rumah malam itu.
Di ruang tamu pengusaha perkapalan itu Sugianto langsung menempelkan kedua surat itu, seraya menyuruh tuan rumah memotretnya.
Awalnya Jerry mau memotret dengan kamera biasa.Tapi Sugianto keberatan. Soalnya dengan kamera biasa akan memakan waktu, sementara boss Ali Murtopo meminta tak pake waktu lama.
Akhirnya digunakan foto polaroid.
Lima kali jepretan, hasilnya 3 baik , yang dua agak buram.
Sugianto langsung mencopot kedua surat dari dinding, lalu memasukkan bersama hasil fotonya ke dalam map. Langsung pamit kembali ke Makostrad.
Dia serahkan itu kepada Brigjen Sucipto ketua G V Koti (Komando Operasi Tertinggi).
Di ruang rapat masih ada Jendral Suharto. Berpakaian loreng dengan sal kuning dileher. Suaranya terdengar serak, maklumi sedang flue.
Sugianto juga lapor ke letkol Ali Murtopo.
“Setelah itu tidak tahu saya kemana terusnya itu Super Semar”, kata Sugiyanto kepada pewawancara dari Majalah Tempo.
Sugianto baru 40 tahun kemudian tahu bahwa malam itu Brigjen Sucipto langsung menelpon Letkol Sudharmono. Ia perintahkan untuk menyiapkan rancangan surat pembubaran PKI. Sudharmono menugaskan Lettu Murdiono membuat konsep surat itu.
Belakangan Murdiono mengaku hanya satu jam memegang super Semar itu. Surat itu dibawa lagi oleh ajudan Sucipto ke Kostrad . Murdiono memastikan surat itu terdiri dari dua lembar.
Rasa rasanya sekarang ini polemik tentang misteri atau kontroversi Supersemar itu sudah layak dihentikan.
Ordenya sudah dua kali berganti. Para pelaku sejarahnya sudah pada pergi menghadap ilahi.
Kedua orde yang sudah masuk kotak ada baik dan buruknya. Positif dan negatif. Itu niscaya.
Tinggal orde yang ketiga, piye kabare ???.***















