Koransakti.co.id- Operasi pencarian dan penyelamatan paling menguras emosi di awal 2026 akhirnya berakhir dengan satu jawaban: tidak ada satu pun yang di tinggalkan. Di hari ketujuh, tepat ketika waktu operasi hampir di tutup, doa ribuan orang terjawab. Seluruh korban pesawat ATR 42-500 berhasil di temukan.
Bagi tim di lapangan, ini bukan sekadar keberhasilan prosedural, ini adalah kemenangan kemanusiaan.
Hening menyelimuti Posko SAR Desa Tompo Bulu. Detik-detik yang menegangkan itu akhirnya pecah oleh isak tangis haru. Laporan yang di tunggu sejak hari pertama akhirnya terdengar: seluruh 10 korban telah di temukan.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, tak mampu menyembunyikan emosinya. Suaranya bergetar, matanya basah, tubuhnya tampak menahan lelah setelah tujuh hari bertarung dengan medan karst ekstrem dan tebing nyaris vertikal.
“Pukul 09.16 WITA, alhamdulillah, paket 10 sudah di temukan,” ucapnya terbata.
Istilah paket adalah sandi penuh penghormatan cara tim menyebut kantong jenazah agar martabat para korban tetap terjaga hingga akhir.
Hari itu, tim SAR Gabungan mengusung sandi operasi “Sapu Bersih” sebuah tekad bulat untuk menutup misi hanya jika seluruh korban berhasil di pulangkan.
“Allah meridhoi niat kami. Hari ketujuh, semuanya di temukan. Korban dan benda penting, termasuk black box,” ujar Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, dengan nada tegas namun penuh rasa syukur.
Keberhasilan ini lahir dari kolaborasi luar biasa lintas instansi: TNI, Polri, Basarnas, Damkar, tim vertical rescue, hingga dukungan perusahaan seperti Tonasa dan Vale, serta masyarakat lokal yang tak pernah berhenti membantu logistik dan doa.
Meski seluruh korban telah di temukan, perjuangan belum sepenuhnya usai. Hingga sore hari, lima kantong jenazah masih berada di ketinggian, menunggu kondisi cuaca memungkinkan untuk di evakuasi ke helispot.
Angin kencang dan kabut tebal masih menjadi tantangan terakhir sebelum seluruh jenazah di bawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses DVI.
Di akhir pernyataannya, Kolonel Dody menyampaikan penghormatan mendalam kepada masyarakat Pangkep. Teriakan “Ewako!” menggema di posko di iringi kepalan tangan para personel SAR, simbol keberanian, solidaritas, dan keteguhan hati khas Sulawesi Selatan.
Hingga saat ini, identifikasi resmi mencatat:
Teridentifikasi: Florencia Lolita Wibisono (Pramugari) dan Deden Maulana (Staf KKP)
Proses DVI: 8 korban lainnya (dalam evakuasi menuju Makassar)
Operasi ini akan di kenang sebagai salah satu misi SAR tersulit di medan karst Indonesia. Menemukan 100 persen korban di tebing hampir 90 derajat dalam waktu tujuh hari adalah prestasi yang menegaskan profesionalisme dan nurani tim SAR Indonesia.
“Kemanusiaan berbicara lewat air mata dan kebersamaan. Saat ego di lepaskan dan sandi ‘Sapu Bersih’ di teriakkan dengan tulus, alam pun memberi jalan. Terima kasih para pejuang kemanusiaan. Kalian memastikan tak satu pun saudara kita tertinggal dalam sunyi gunung.”
Tujuh hari mempertaruhkan nyawa di dinding batu Bulusaraung di tutup dengan pelukan, air mata, dan rasa lega. Gunung itu mungkin kejam, tetapi tekad tim SAR jauh lebih kuat.
Misi selesai. Semua pulang. Mereka yang pergi, akhirnya kembali dalam kehormatan.***
Baca juga:TNI Temukan Lokasi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Operasi Pencarian Ditutup, Seluruh Korban ATR berhasil Ditemukan















