JENEWA, SWISS – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data terbaru yang mengejutkan pada hari Selasa (2/9/2025). Laporan tersebut mengungkap bahwa lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia kini hidup dengan gangguan kesehatan mental. Angka ini menunjukkan adanya krisis kesehatan global yang memerlukan tindakan segera.
Melalui dua laporan terbarunya, “World mental health today” dan “Mental Health Atlas 2024”, WHO mendesak semua negara untuk meningkatkan layanan kesehatan mental secara masif. Mereka menekankan bahwa kesehatan mental adalah hak asasi, bukan sebuah kemewahan.
Beban Berat Akibat Depresi dan Kecemasan
Laporan WHO menyoroti dampak besar dari gangguan mental. Kondisi seperti depresi dan kecemasan menjadi penyebab utama kedua disabilitas jangka panjang secara global. Gangguan ini tidak hanya membebani biaya layanan kesehatan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Depresi dan kecemasan saja diperkirakan merugikan ekonomi global sebesar US$1 triliun (sekitar Rp15.000 triliun) setiap tahunnya. Kerugian ini terutama disebabkan oleh hilangnya produktivitas.
Selain itu, bunuh diri tetap menjadi isu yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2021 saja, diperkirakan ada 727.000 orang meninggal akibat bunuh diri. Angka ini menjadikannya salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak muda.
Kesenjangan Besar dalam Layanan dan Pendanaan
Meskipun banyak negara telah memperkuat kebijakan kesehatan mental, laporan WHO menunjukkan adanya kesenjangan yang parah dalam implementasinya.
- Pendanaan Stagnan: Anggaran pemerintah untuk kesehatan mental rata-rata hanya 2% dari total anggaran kesehatan. Angka ini tidak berubah sejak 2017.
- Tenaga Kerja Kurang: Terdapat kekurangan tenaga kesehatan mental yang ekstrem, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
- Akses Layanan Rendah: Di negara berpenghasilan rendah, kurang dari 10% orang yang terdampak menerima perawatan. Angka ini kontras dengan negara berpenghasilan tinggi yang mencapai lebih dari 50%.
Panggilan Mendesak untuk Bertindak
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan tindakan segera dari semua pemerintah.
“Berinvestasi dalam kesehatan mental berarti berinvestasi pada manusia, komunitas, dan ekonomi,” kata Dr. Tedros. “Setiap pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan perawatan kesehatan mental diperlakukan bukan sebagai hak istimewa, tetapi sebagai hak dasar untuk semua,” tegasnya.
WHO mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera melakukan reformasi sistemik. Langkah ini termasuk pembiayaan yang adil, reformasi kebijakan yang melindungi HAM, dan perluasan layanan berbasis komunitas.















