koransakti.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memulai proses untuk memperbarui komposisi vaksin COVID-19 agar tetap efektif melawan varian-varian virus yang terus bermutasi. Melalui badan penasihat teknisnya (TAG-CO-VAC), WHO telah mengeluarkan panggilan kepada komunitas ilmiah dan produsen vaksin di seluruh dunia untuk menyerahkan data penelitian terbaru.
Data ini akan menjadi dasar bagi WHO untuk memutuskan rekomendasi formula vaksin COVID-19 berikutnya dalam sebuah pertemuan penting yang dijadwalkan pada Desember 2025.
Fokus pada Varian Baru Seperti LP.8.1
Seiring dengan terus berevolusinya virus SARS-CoV-2, WHO kini memfokuskan perhatiannya pada beberapa varian baru yang sedang beredar dan berpotensi menjadi ancaman. Varian-varian kunci yang menjadi sorotan antara lain adalah JN.1, KP.2, XEC, dan LP.8.1.
Badan penasihat teknis WHO ingin memahami seberapa baik vaksin yang ada saat ini—yang sebagian besar dibuat berdasarkan varian lama seperti XBB.1.5—mampu memberikan perlindungan terhadap varian-varian yang lebih baru ini.
Data Apa Saja yang Dibutuhkan?
Untuk membuat keputusan yang berbasis bukti ilmiah kuat, WHO meminta beberapa jenis data krusial, di antaranya:
- Evolusi Genetik Virus: Data yang menunjukkan bagaimana virus SARS-CoV-2 terus berubah dan bermutasi.
- Data Imunologi: Hasil penelitian laboratorium yang menguji seberapa kuat antibodi (baik dari vaksinasi maupun infeksi sebelumnya) dalam menetralisir atau melawan varian-varian baru.
- Efektivitas di Dunia Nyata: Studi epidemiologi yang menunjukkan seberapa efektif vaksin yang ada saat ini dalam mencegah infeksi, penyakit bergejala, dan penyakit parah di tengah populasi yang terinfeksi oleh varian baru.

(Sumber: WHO)
Keputusan Dibuat Desember 2025
Semua data yang terkumpul dari para ilmuwan dan produsen vaksin akan ditinjau secara menyeluruh dalam pertemuan TAG-CO-VAC pada bulan Desember. Setelah itu, WHO akan mengeluarkan pernyataan resmi berisi rekomendasi komposisi antigen baru.
Rekomendasi inilah yang nantinya akan digunakan oleh perusahaan-perusahaan farmasi di seluruh dunia sebagai acuan untuk memproduksi vaksin COVID-19 yang telah diperbarui, guna memastikan perlindungan yang optimal bagi masyarakat global.















