Home / Kebijakan / Pemerintahan

Jumat, 12 September 2025 - 16:45 WIB

Ketika Loyalitas Tak Diakui: Diskriminasi Administratif dalam Reformasi ASN

koransakti - Penulis

koransakti.co.id, Sungai Penuh- Dalam kerangka tata kelola sumber daya manusia aparatur sipil negara, idealnya pengambilan kebijakan publik didasarkan pada prinsip rekognisi terhadap kinerja, pengabdian, dan kontribusi nyata, bukan sekadar variabel administratif yang kaku. Namun, yang terjadi hari ini justru sebaliknya.

Ribuan guru honorer dan tenaga teknis non-PNS yang telah mengabdi lebih dari dua tahun  bahkan dalam banyak kasus, lebih dari lima hingga sepuluh tahun  kini berada dalam posisi yang ironis: mereka disingkirkan dari mekanisme seleksi PPPK paruh waktu hanya karena sebelumnya memilih ikut seleksi CPNS. Padahal, baik CPNS maupun PPPK adalah dua jalur resmi dalam sistem ASN, yang semestinya tidak saling menegasikan pengabdian individu yang telah berlangsung jauh sebelum seleksi dilakukan.

Baca juga :   Kades Koto Pudung Damzurizal Ikuti Sosialisasi Pencegahan Radikalisme di IAIN Kerinci

Kebijakan ini menunjukkan cacat logika kebijakan (policy fallacy) yang serius:

Pertama, pengabdian yang terakumulasi secara faktual dan administratif diabaikan begitu saja karena satu keputusan administratif  mengikuti seleksi CPNS. Ini bentuk diskriminasi prosedural, bukan berdasarkan merit, tetapi berdasarkan “pilihan seleksi”.

Kedua, pendekatan regulatif yang tidak fleksibel menciptakan paradoks kebijakan ASN, di mana individu yang justru menunjukkan motivasi tinggi (dengan mencoba jalur CPNS) malah dihukum dengan pengucilan dari PPPK, padahal keduanya adalah bagian dari reformasi ASN yang inklusif dan meritokratik.

Ketiga, kebijakan ini secara tidak langsung merusak semangat equal recognition dalam prinsip reformasi birokrasi, karena pengabdian guru dan tenaga teknis yang telah bertahun-tahun menopang pelayanan publik daerah menjadi tak bernilai hanya karena memilih jalur seleksi yang berbeda.

Baca juga :   WARTAWAN DI ANTARA (PEJABAT) YANG RAMAH DAN MARAH

Secara sosiologis dan administratif, ini adalah bentuk pengingkaran institusional terhadap loyalitas struktural. Mereka hadir ketika negara kekurangan tenaga. Mereka tetap bekerja tanpa kepastian status. Namun, saat negara bisa memberi rekognisi dan kejelasan status, mereka justru didepak oleh kebijakan yang abai terhadap konteks lapangan.

Apakah ini wajah baru meritokrasi yang dijanjikan oleh reformasi ASN?

Jika benar demikian, maka kita sedang menyaksikan transformasi kebijakan publik yang memarjinalkan pengabdian, melemahkan keadilan prosedural, dan memproduksi ketidakpuasan struktural di tingkat akar rumput birokrasi.

Guru bukan sekadar pengajar. Tenaga teknis bukan sekadar operator sistem. Mereka adalah pilar pelayanan publik. Dan mengabaikan mereka sama saja dengan meruntuhkan fondasi negara.

Berita ini 96 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Pemerintah Salurkan 360 Ribu Ton Bantuan Beras Hingga Akhir Juli 2025

Merangin

Walikota Sungai Penuh Jalin Silaturahmi Hangat dalam Halal Bihalal Bersama Bupati Merangin

Advetorial

Kades Ujung Pasir Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-80

Advetorial

Sambangi Kementrian ATR/BPN, Walikota Usulkan Sungai Penuh Jadi PKW

Bandung

Dukung Ketahanan Pangan, Polda Jabar Resmikan Gudang Logistik dan Gelar Tanam Jagung Serentak

Advetorial

Tiga Pimpinan DPRD Kota Sungai Penuh Resmi Dilantik 

Advetorial

Wabup Murison Dorong Percepatan Pendirian Koperasi Merah Putih 

Kebijakan

Presiden Prabowo Terima Michael Bloomberg, Bahas Penguatan SDM