Home / Bencana / Internasional / Kesehatan

Rabu, 3 September 2025 - 13:16 WIB

Wabah Kolera Global Memburuk, WHO Peringatkan Angka Kematian Melonjak Tajam

koransakti - Penulis

Peta kasus kolera dan diare akut (AWD) global per 100.000 populasi, untuk periode 1 Januari hingga 17 Agustus 2025.
*Catatan: Afghanistan dan Myanmar melaporkan kasus sebagai AWD. (Sumber: WHO)

Peta kasus kolera dan diare akut (AWD) global per 100.000 populasi, untuk periode 1 Januari hingga 17 Agustus 2025. *Catatan: Afghanistan dan Myanmar melaporkan kasus sebagai AWD. (Sumber: WHO)

Koran Sakti.co.id, Jenewa, Swiss- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan serius mengenai situasi wabah kolera global. Menurut laporan terbaru mereka, kondisi di seluruh dunia terus memburuk. Hingga pertengahan Agustus 2025, tercatat lebih dari 409 ribu kasus di 31 negara.

Yang paling mengkhawatirkan adalah angka kematian yang melonjak tajam. WHO menyebut risiko penyebaran lebih lanjut antar negara saat ini “sangat tinggi”. Mereka menyerukan tindakan kesehatan masyarakat yang mendesak dan terkoordinasi.

Paradoks Angka: Kasus Turun, Kematian Naik

Data WHO menunjukkan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Dari 1 Januari hingga 17 Agustus 2025, tercatat 409.222 kasus kolera dengan 4.738 kematian.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, jumlah kasus sebenarnya menurun 20 persen. Namun, jumlah kematian justru melonjak drastis sebesar 46 persen.

Baca juga :   Daun Seledri Memiliki Segudang Manfaat Untuk Kesehatan

WHO menyatakan ini adalah indikator adanya kesenjangan serius dalam penanganan kasus. Banyak pasien diduga terlambat mendapatkan akses ke perawatan medis yang layak. Wilayah Afrika mencatat angka kematian tertinggi dengan 3.763 korban jiwa.

Pemicu Krisis: Konflik, Iklim, dan Kemiskinan

WHO mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memperparah wabah kolera. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Konflik dan pengungsian massal.
  • Bencana akibat bahaya alam dan perubahan iklim.
  • Kemiskinan dan infrastruktur yang buruk.

Kondisi ini merusak sistem air bersih dan sanitasi. Akibatnya, masyarakat terpaksa tinggal di lingkungan yang tidak sehat dan rentan terhadap penyebaran penyakit. Negara-negara seperti Chad, Kongo, Sudan, dan Sudan Selatan saat ini mengalami lonjakan kasus yang signifikan.

Baca juga :   Indonesia Luncurkan Satelit Cuaca Mandiri Pertama, Langsung Dipantau NASA

Solusi Jangka Panjang dan Respons Darurat

Menurut WHO, solusi jangka panjang dan berkelanjutan untuk mengakhiri darurat kolera ini hanya ada tiga. Ketiganya adalah akses terhadap air minum yang aman, sanitasi, dan kebersihan (WASH).

Untuk respons saat ini, WHO bekerja sama dengan kementerian kesehatan di negara-negara terdampak. Mereka mendukung semua pilar pengendalian kolera. Ini termasuk penguatan surveilans, peningkatan kualitas pengobatan, kampanye vaksinasi, dan kolaborasi lintas batas.

Tanpa tindakan cepat, WHO khawatir penularan kolera akan terus meluas ke negara-negara lain.

Berita ini 48 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

Presiden Prabowo Salat Iduladha 1447 H Bersama Diaspora Indonesia di Paris

Kesehatan

PERSAGI Sungai Penuh Gelar Aksi Bebas Stunting di Koto Baru
4 Pertolongan Pertama Keracunan Makanan: Jangan Panik, Lakukan Ini Segera!

Kesehatan

4 Pertolongan Pertama Keracunan Makanan: Jangan Panik, Lakukan Ini Segera!

Kesehatan

Ahmadi-Ferry Jalani Tes Kesehatan di RS Bhayangkara Jambi

Kesehatan

Rekomendasi Makanan untuk Menjaga Hormon Tetap Stabil

Daerah

Gubernur Bengkulu Alokasikan Rp 167 Miliar Untuk BPJS Gratis

Kesehatan

Mengidap Tumor, Rusdi Dahlan Butuh Bantuan Donatur
6 Manfaat Ceramide untuk Wajah: Kunci Skin Barrier Sehat & Awet Muda

Kesehatan

6 Manfaat Ceramide untuk Wajah: Kunci Skin Barrier Sehat & Awet Muda