koransakti.co.id – Sutradara legendaris James Cameron melontarkan kritik tajam terhadap film pemenang Oscar, Oppenheimer, garapan Christopher Nolan. Dalam sebuah wawancara terbaru, sutradara Avatar dan Terminator itu menyebut Oppenheimer sebagai film yang “agak pengecut secara moral” (a bit of a moral cop out).
Kritik ini muncul bersamaan dengan pengungkapan rencana Cameron untuk menggarap filmnya sendiri yang berjudul Ghosts of Hiroshima, yang akan mengangkat sisi lain dari peristiwa bom atom.
Kritik Karena Hindari Kengerian di Jepang
Menurut Cameron, meskipun ia menyukai sisi sinematik dari Oppenheimer, ia merasa film tersebut sengaja “menghindari subjek utama” yaitu kengerian yang sesungguhnya terjadi pada para korban di Hiroshima dan Nagasaki.
“Bukannya Oppenheimer tidak tahu efeknya. Hanya ada satu momen singkat di mana dia melihat beberapa tubuh hangus di antara penonton,” ujar Cameron kepada Deadline. “Saya merasa film itu menghindari subjek tersebut. Saya tidak tahu apakah pihak studio atau Chris (Nolan) merasa itu adalah area sensitif yang tidak ingin mereka sentuh, tapi saya ingin langsung menuju ke sana.”
Pembelaan Nolan: Ini Sudut Pandang Oppenheimer
Kritik semacam ini sebenarnya sudah pernah ditanggapi oleh Christopher Nolan sebelumnya. Nolan berargumen bahwa filmnya sengaja dibuat secara subjektif dari sudut pandang J. Robert Oppenheimer.
“Film ini menyajikan pengalaman Oppenheimer secara subjektif,” kata Nolan kepada Variety. “Oppenheimer mendengar tentang pengeboman itu pada saat yang sama dengan seluruh dunia. Saya ingin menunjukkan seseorang yang mulai memahami konsekuensi tak terduga dari tindakannya.”
Proyek ‘Ghosts of Hiroshima’: Jawaban dari Cameron
Sebagai jawaban atas apa yang ia anggap kurang dalam film Oppenheimer, James Cameron akan menyutradarai film yang diadaptasi dari buku karya Charles Pellegrino, Ghosts of Hiroshima. Film ini akan berfokus pada kisah nyata seorang pria yang selamat dari kedua ledakan bom di Hiroshima dan Nagasaki.
Cameron menyatakan bahwa filmnya akan “tanpa kompromi” dan terinspirasi dari film Saving Private Ryan karya Steven Spielberg, yang berani menunjukkan peristiwa sejarah “apa adanya”. Ia bahkan mengakui bahwa film ini mungkin tidak akan sesukses karya-karyanya yang lain secara komersial karena ia tidak akan menahan diri dalam menggambarkan kengerian yang terjadi.















