Home / Daerah / Hukum / Sungai Penuh

Jumat, 10 Oktober 2025 - 20:13 WIB

Dugaan Pelecehan Seksual, Perdamaian Tidak Menghapus Tanggungjawab Pidana

koransakti - Penulis

Koransakti.co.id, Sungai Penuh – Kasus dugaan tindak asusila yang menyeret oknum Sekretaris Desa (Sekdes) Koto Renah, Kecamatan Pesisir bukit, Kota Sungai Penuh, terus menjadi perhatian publik. Meski beredar kabar bahwa pihak keluarga korban dan pelaku telah melakukan perdamaian, namun secara hukum, perdamaian tersebut tidak dapat menghentikan proses pidana.

Perdamaian dalam kasus kekerasan seksual hanya memiliki nilai sosial, bukan yuridis. Apalagi jika menyangkut korban penyandang disabilitas, negara memiliki kewajiban hadir untuk memberikan perlindungan dan memastikan proses hukum berjalan hingga tuntas.

Secara hukum, perlindungan terhadap korban dalam perkara ini dijamin oleh sejumlah peraturan perundang-undangan, di antaranya:

Baca juga :   Ketum Al Maun: Konversi Gas LPG ke Kompor Listrik Membebani Negara dan Rakyat 
  • Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang menegaskan bahwa penyandang disabilitas berhak atas perlindungan dari segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, termasuk kekerasan seksual.
  • Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), yang secara tegas menyebut bahwa tindak pidana kekerasan seksual tidak dapat diselesaikan di luar proses hukum. Artinya, perdamaian antara pelaku dan korban tidak menghapus tanggung jawab pidana.
  • Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai kelompok rentan dan wajib mendapat perlakuan hukum yang adil serta perlindungan khusus dari negara.
Baca juga :   Wako Alfin dan Wawako Azhar Safari Jumat di Masjid Baiturrahim Desa Pinggir Air

Kasat Reskrim Polres Kerinci, AKP Very Prasetyawan, S.H., M.H., saat dikonfirmasi Jumat (10/10/2025) sekitar pukul 16.43 WIB, menegaskan bahwa perkara ini masih dalam tahap penyelidikan.

“Masih dalam proses penyelidikan,” ujar AKP Very singkat saat dihubungi awak media.

Dengan demikian, meskipun ada upaya perdamaian dari pihak keluarga, proses hukum tetap harus berjalan sesuai ketentuan perundang-undangan. Publik pun berharap aparat penegak hukum dapat menuntaskan kasus ini secara transparan dan profesional, sebagai bentuk komitmen negara dalam melindungi korban kekerasan seksual, khususnya dari kalangan penyandang disabilitas yang termasuk kelompok rentan.(*)

Berita ini 48 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Daerah

Danau Kaco, Permata Biru Tersembunyi di Hutan Kerinci

Bencana

Korban Tenggelam di Sungai Batanghari Ditemukan Telah Meninggal Dunia

Daerah

Kasdam II/Swj hadiri Rapat Konsolidasi Penyerapan Gabah di wilayah Sumsel Babel

Sungai Penuh

Wawako Azhar Hamzah Hadiri Tanam Perdana Padi Teknologi PM AAS di Sungai Penuh, Dorong Modernisasi Pertanian

Advetorial

Wako Alfin Ajak BKMT Peduli Lingkungan Sebagai Bagian Dakwah Islam
Kepala Desa MUARA JAYA Mengucapkan Selamat & Sukses Kenduri SKO Kumun Debai 2025

Seni & Budaya

Kepala Desa MUARA JAYA Mengucapkan Selamat & Sukses Kenduri SKO Kumun Debai 2025

Sungai Penuh

Sungai Penuh Kembali Raih Apresiasi Pemerintah Pusat, Dapat Insentif Fiskal Rp1,5 Miliar

Daerah

Pangdam Ziarah ke Makam Pangeran Diponegoro di Makasar