Koransakti.co.id – Kedatangan Eberechi Eze ke Emirates Stadium awalnya memicu optimisme besar, apalagi sang pemain lebih memilih bergabung dengan Arsenal dibandingkan rival sekota, Tottenham Hotspur.
Namun, setelah sempat mencuri perhatian lewat hat-trick fenomenal di derbi London Utara, performa pemain berusia 27 tahun ini justru mengalami penurunan yang cukup tajam.
Dalam empat laga terakhir di kancah Premier League, Eberechi Eze tercatat gagal menyumbangkan gol maupun assist.
Publik mulai mempertanyakan kontribusinya setelah ia hanya menghuni bangku cadangan saat melawan Everton dan keluar lebih awal pada perempat final Piala EFL kontra Crystal Palace.
Meski tetap menunjukkan bakat kreatif, Eze masih berjuang keras menemukan konsistensi dalam sistem permainan Mikel Arteta yang sangat menuntut.
Menanggapi situasi ini, legenda Arsenal, Ray Parlour, memberikan masukan strategis.
Parlour menyarankan agar Arteta tidak memaku Eze hanya di posisi sayap.
Ia meyakini Eze mampu menjadi pelapis dinamis di lini tengah saat Declan Rice atau Martin Zubimendi naik menyerang.
Menurut Parlour, adaptasi terhadap tekanan klub besar memang membutuhkan waktu. Namun fleksibilitas Eze akan menjadikannya aset fantastis bagi The Gunners di masa depan.
Menatap musim depan, pergeseran peran Eze tampaknya akan semakin permanen di sektor sayap kiri.
Hal ini berkaitan dengan rumor rencana penjualan salah satu antara Gabriel Martinelli atau Leandro Trossard.
Klub memutuskan untuk memplot bintang muda Ethan Nwaneri di area sentral sebagai penerus Martin Odegaard. Sehingga, Arsenal memproyeksikan Eze sebagai pilar utama di sisi kiri guna menjaga kedalaman skuad demi ambisi meraih trofi juara.-***















