Koransakti.co.id- Sebuah kisah mengharukan datang dari Arab Saudi dan menyentuh hati banyak orang. Seorang pria bernama Hizam Al-Gamdi menjadi sorotan publik setelah bersengketa di pengadilan bukan karena harta atau warisan, melainkan karena satu hal yang sangat mulia: hak untuk merawat ibunya yang telah lanjut usia.
Di saat banyak keluarga terpecah karena urusan materi, Hizam justru berhadapan dengan adik kandungnya sendiri demi memastikan siapa yang paling layak mengasuh sang ibu.
Ibunya kini telah renta, lemah, dan membutuhkan bantuan penuh dalam menjalani hari-harinya, bahkan untuk sekadar berjalan atau berdiri.
Hizam di ketahui telah bertahun-tahun setia merawat ibunya dengan penuh kasih sayang. Meski usianya sendiri tak lagi muda, ia bersikeras masih sanggup dan ingin terus berbakti. Namun sang adik merasa sudah saatnya ia mengambil alih tanggung jawab itu, mengingat kondisi kakaknya yang juga mulai menua.
Perdebatan di ruang sidang pun tak terelakkan. Hingga akhirnya, demi mencari keadilan, pengadilan meminta sang ibu untuk memilih salah satu di antara kedua putranya. Namun jawaban sang ibu justru membuat seluruh ruang sidang terdiam dan larut dalam haru.
Dengan suara lirih, sang ibu mengatakan bahwa ia tak sanggup memilih, karena kedua anaknya adalah seperti mata kanan dan mata kiri, sama-sama berharga dan di cintainya.
Kalimat sederhana itu membuat banyak orang di pengadilan meneteskan air mata, merinding menyaksikan ketulusan cinta seorang ibu.
Pada akhirnya, hakim memutuskan bahwa sang adik di beri hak utama untuk merawat ibunya, dengan pertimbangan usia Hizam yang sudah lanjut.
Mendengar keputusan itu, Hizam tak kuasa menahan tangis. Bukan karena kalah, melainkan karena merasa kehilangan kemuliaan terbesar dalam hidupnya: berbakti kepada ibu.
Kisah ini pun menjadi pengingat bagi dunia bahwa kasih sayang, bakti, dan cinta keluarga masih hidup bahkan hingga ke ruang pengadilan.**















