Home / Bisnis / Ekonomi

Selasa, 19 Mei 2026 - 06:06 WIB

Strategi Omnichannel: Mengapa Brand Lokal Mulai Mandiri dan Tinggalkan Ketergantungan pada Marketplace?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Lanskap bisnis digital di Indonesia sedang mengalami pergeseran yang menarik. Belakangan ini, publik menyaksikan fenomena sejumlah merek dagang (brand) lokal yang mulai mengurangi ketergantungan mereka, bahkan hengkang, dari platform marketplace raksasa seperti Shopee dan TikTok Shop. Langkah berani ini mencuat ke permukaan seiring dengan melonjaknya biaya komisi dan biaya layanan yang di bebankan oleh pihak platform kepada para penjual (seller).

Lantas, apakah fenomena ini menandakan kemunduran bagi ekosistem digital? Jawabannya adalah tidak. Fenomena ini justru menjadi sinyal kedewasaan para pelaku usaha lokal dalam mengelola bisnis mereka.

Era Baru Hybrid Commerce dan Omnichannel

Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) melihat pergeseran ini bukan sebagai aksi boikot, melainkan sebagai adaptasi tren omnichannel atau hybrid commerce. Banyak brand lokal kini menyadari bahwa menaruh semua telur dalam satu keranjang—yakni hanya mengandalkan marketplace—memiliki risiko yang besar bagi profitabilitas jangka panjang.

Sebagai solusinya, para pelaku usaha mulai membangun infrastruktur penjualan mandiri. Mereka memperkuat situs web resmi (website D2C), memaksimalkan live commerce di platform yang lebih fleksibel, mengoptimalkan chat commerce, hingga mengintegrasikannya dengan toko fisik (offline).

Catatan Penting: Marketplace tetap memegang peran krusial dalam hal mendatangkan arus konsumen (traffic), menyediakan sistem pembayaran, dan logistik yang terintegrasi. Namun, brand lokal kini memposisikan marketplace hanya sebagai salah satu pintu masuk, bukan satu-satunya penopang omset.

Dampak Terhadap Pertumbuhan E-Commerce Nasional

Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI menegaskan bahwa migrasi para penjual lokal ini tidak akan mengoreksi pertumbuhan transaksi digital nasional. Nilai transaksi e-commerce di Indonesia masih menunjukkan tren positif karena pasar digital yang sangat dinamis.

Pelaku UMKM dan brand besar pada dasarnya akan selalu bergerak menuju kanal yang menawarkan efisiensi tertinggi dan keuntungan paling optimal. Ketika biaya platform mulai menggerus margin keuntungan, diversifikasi kanal menjadi langkah penyelamat yang paling logis.

Menjaga Keseimbangan Ekosistem Digital

Untuk merespons dinamika ini, pemerintah terus mengupayakan titik temu yang adil. Fokus utamanya adalah mendorong prinsip transparansi dan praktik usaha yang sehat antara penyedia platform, sektor logistik, dan para pelaku UMKM. Dialog terbuka terus di galakkan agar platform tetap mampu berinovasi tanpa membebani pelaku usaha lokal secara berlebihan.

Bagi Anda pemilik brand, momentum ini adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi strategi pemasaran. Memanfaatkan strategi multichannel atau omnichannel sesuai kapasitas modal dan kebutuhan usaha akan membuka akses pasar yang jauh lebih luas dan mengamankan masa depan bisnis dari ketergantungan satu platform saja. (adam)

Berita ini 33 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Krisis Gaji ASN Pemda dan Progres LRT Jakarta: Solusi Anggaran hingga Transportasi Masa Depan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini. (Sumber: KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Bisnis

IHSG Hari Ini 30 Oktober 2025 Menguat Tipis, Analis Prediksi Lanjut Uji 8.250

Bisnis

Intip Snack Emping Jagung Nasabah PNM Mekaar yang Diborong Wapres Gibran   
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini. (Sumber: KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Bisnis

Prediksi IHSG Senin 27 Oktober 2025: Fokus ke The Fed, Simak Proyeksi Analis
Kebangkitan Sang Legenda: Toyota Kijang Super 2026 Hadir dengan Diesel Turbo dan Kemewahan Mutakhir

Bisnis

Kebangkitan Sang Legenda: Toyota Kijang Super 2026 Hadir dengan Diesel Turbo dan Kemewahan Mutakhir
Pet Hotel Penuh Semua? Buka Jasa "Titip Anabul Rumahan" Sekarang! Cuma Modal Ruang Tamu, Banjir Orderan dari Pemilik Kucing yang Mau Liburan!

Bisnis

Pet Hotel Penuh Semua? Buka Jasa “Titip Anabul Rumahan” Sekarang! Cuma Modal Ruang Tamu, Banjir Orderan dari Pemilik Kucing yang Mau Liburan!

Edukasi

Minyak Iran dan Selat Hormuz

Bandung

Anggaran Dipotong Pusat Rp2,45 Triliun, Gubernur Dedi Mulyadi Siapkan Strategi Efisiensi di Jabar