Oleh: Dedi Asikin
Koran Sakti.co.id- Bahlil memang bukan Bahlul. Di dalam KBBI tidak ada arti kata Bahlil. Kata Bahlul diterangkan di KBBI cuma disebut banyak digunakan orang untuk menyebut orang bodoh. Sering orang mengira itu berasal dari bahasa Arab. Padahal sebenarnya bukan.
Wallahu alam tidak ditemukan petunjuk dari mana asal kata Bahlul itu. Bodoh dalam bahasa Arab adalah Aqmal atau jah. Aqmalun atau jahilun artinya orang bodoh.
Tapi Bahlil bukan Bahlul. Bahlil mah orang pinter cuma sering kali keblinger.
Waktu jadi menteri investasi, dia hadir di pulau Rempang, malah disambut demo masyarakat yang menolak dipindah ke pulau Galang. Bahlil (Lahadalia) pula yang membuat ormas Islam tergoncang lantaran kasus pemberian izin usaha pertambangan bagi ormas.
Sekarang Bahlil bikin guncang pula seisi negeri. Tak lama pindah kursi dari menteri Investasi ke ESDM kembali dia buat onar.
Dia rubah skema distribusi gas ( bersubsidi) 3 kg.
Dilarangnya masyarakat membeli gas dari pengecer. Ini berarti dilarang pula pedagang kecil ikut menikmati sedikit keuntungan.
Dia mau penjualan ke masyarakat dilakukan oleh pangkalan yang telah ditunjuk Pertamina.
Maksudnya tak lain agar masyarakat mendapatkan harga resmi (Rp. 18.000/galon). Dia tak paham bahwa pada umumnya jarak pangkalan dengan masyarakat itu jauh.
Walaupun harga resmi Rp 18.000 tapi ongkos jalan paling rendah Rp.10.000 jadi berapa tu barang?
Niatnya memang baik, tapi dia tidak hati hati. Ibarat melarai orang berkelahi, kalau tidak hati-hati malah bisa jontor mulut kena bogem.
Dia ibarat orang tahu tujuan tapi tak tahu Kesasar dia
Bahlil bukan Bahlul. Dia pinter tapi keblinger. Dalam dua hari terakhir sejak tanggal 1 Febuari masyarakat di perkampungan bergejolak. Mereka sulit mendapatkan gas ijo melon itu. Pengecer tidak jual. Ke pangkalan jauh. Ketika terpaksa ramai ramai ke pangkalan, mereka terpaksa ngantri. Kaya antri beras tahun 60 an.
Jadi ingat nyanyian anak anak, Oray orayan luar leor ka sawah, entong ka sawah parena keur sedeng bekah.
Kalau tidak ada solusi itu oray bisa ngaleor ka kantor Bahlil.
Bahlil keblinger, kaya orang pinter, tapi kelakon kaya Bahlul.
Untung, katanya presiden Prabowo cepat tanggap. Menurut postingan yang berseliweran, katanya Presiden membatalkan peraturan buatan Bahlil yang (cuma) kaya Bahlul itu. Dan aturan distribusi gas melon dikembalikan ke aturan semula.
Prabowo memang keren, komentar teman teman saya di grup Diskusi Ngadu Bako.
Tapi Bahlil kok kaya Bahlul
Padahal Bahlil bukan Bahlul. Bahlil tenaga warisan dari suhu politik. Padahal Prabowo sempat ragu ketika Jokowi mengangkat dia menjadi menteri investasi.
Eh malah mas Wowo memindahkannya ke lobang tambang.
Keblinger lagi dia didalam lobang.
Dan diskusi Ngadu
Bako pun bubar.
Tinggal bandar ketempuhan babayar.***















