koransakti.co.id, Jepang- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah Kumamoto, Jepang, pada Selasa sore (28/7) sekitar pukul 16.27 waktu setempat. Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer. Hantaman gempa dangkal ini memicu kerusakan infrastruktur yang cukup parah hingga merobohkan sejumlah bangunan pemukiman dan fasilitas umum.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengonfirmasi bahwa guncangan hebat tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di berbagai titik. Selain merobohkan gedung, bencana ini memicu kebakaran hebat serta memutus akses jalan utama dan jembatan di Prefektur Kumamoto. Kerusakan pada jaringan listrik bahkan menyebabkan setidaknya 45 ribu keluarga terpaksa bertahan di tengah pemadaman massal.
Dampak gempa juga melumpuhkan pusat perbelanjaan Aeon Mall di Kota Kashima. Tim penyelamat hingga kini terus menyisir reruntuhan bangunan pusat perbelanjaan tersebut untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Data awal dari rumah sakit setempat mencatat setidaknya 50 orang mengalami luka-luka, sementara angka pasti korban jiwa masih terus di verifikasi oleh pihak berwenang.
Guna mengantisipasi bahaya gempa susulan, pemerintah Jepang menginstruksikan sekitar 300.000 warga untuk segera mengungsi ke lokasi penampungan darurat. Selain itu, otoritas setempat mengerahkan sedikitnya 3.600 personel tentara untuk mempercepat proses pencarian, penyelamatan, dan pemulihan di lokasi terdampak.
Imbauan Keselamatan untuk WNI di Jepang
Merespons kondisi darurat ini, Perwakilan RI di Jepang mengimbau seluruh Warga Negara Indonesia (WNI)—khususnya yang berada di wilayah Kyushu dan sekitarnya—agar tetap tenang namun selalu waspada. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Osaka terus memantau situasi di lapangan serta berkoordinasi erat dengan jaringan WNI maupun otoritas setempat.
Perwakilan RI menyampaikan beberapa panduan penting bagi WNI di wilayah terdampak:
Patuhi Instruksi Resmi: WNI di minta selalu memantau perkembangan situasi melalui saluran resmi JMA atau pemerintah setempat, serta mematuhi arahan evakuasi dari otoritas setempat.
Hemat Baterai Ponsel: Jaga seluler tetap aktif dan hemat penggunaan daya agar mudah di hubungi saat situasi darurat.
Kabar Keluarga: Segera berikan kabar mengenai kondisi keselamatan diri kepada keluarga di Indonesia.
Saling Bantu: Bangun koordinasi aktif dengan sesama WNI dan warga sekitar di lokasi pengungsian.
Hubungi Saluran Darurat: Jika memerlukan bantuan medis atau evakuasi darurat, WNI diminta segera menghubungi kontak darurat resmi KBRI Tokyo atau KJRI Osaka.















