koransakti.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis Laporan Hipertensi Global kedua yang mengungkapkan data mengkhawatirkan: sebanyak 1,4 miliar orang hidup dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi pada tahun 2024. Namun, hanya satu dari lima orang di antaranya yang kondisinya terkontrol dengan baik.
Laporan yang dirilis di sela-sela Sidang Umum PBB ini menyoroti krisis kesehatan global yang seringkali diabaikan, padahal dapat dicegah dan diobati.
Krisis Senyap yang Mematikan
Hipertensi merupakan penyebab utama serangan jantung, stroke, penyakit ginjal kronis, dan demensia. Menurut Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, krisis ini memiliki dampak yang mematikan.
“Setiap jam, lebih dari 1.000 nyawa melayang akibat stroke dan serangan jantung dari tekanan darah tinggi, dan sebagian besar kematian ini dapat dicegah,” ujar Dr. Tedros.
Tanpa tindakan segera, jutaan orang akan terus meninggal sebelum waktunya, dan negara-negara akan menghadapi kerugian ekonomi yang besar. Diperkirakan, penyakit kardiovaskular—termasuk hipertensi—akan merugikan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah sekitar US$ 3,7 triliun dari tahun 2011 hingga 2025.
Akses Obat Jadi Kendala Utama di Negara Miskin
Salah satu penghalang terbesar dalam pengendalian hipertensi adalah kesenjangan akses terhadap obat-obatan. Laporan ini mengungkap fakta yang mencolok:
- Hanya 28% negara berpenghasilan rendah yang melaporkan ketersediaan semua obat hipertensi yang direkomendasikan WHO.
- Sebagai perbandingan, 93% negara berpenghasilan tinggi memiliki akses yang memadai.
“Obat-obatan yang aman, efektif, dan berbiaya rendah untuk mengontrol tekanan darah itu ada, tetapi terlalu banyak orang yang tidak bisa mendapatkannya,” kata Dr. Tom Frieden, Presiden & CEO Resolve to Save Lives.
Kisah Sukses dari Berbagai Negara
Meskipun tantangannya besar, laporan ini juga menunjukkan bahwa kemajuan sangat mungkin dicapai. Beberapa negara telah menunjukkan keberhasilan signifikan, di antaranya:
- Bangladesh: Meningkatkan tingkat kontrol hipertensi dari 15% menjadi 56% di beberapa wilayah dengan mengintegrasikan layanan hipertensi ke dalam paket layanan kesehatan esensial.
- Filipina: Secara efektif menerapkan paket teknis HEARTS dari WHO di tingkat layanan masyarakat secara nasional.
- Korea Selatan: Mencapai tingkat kontrol tekanan darah nasional yang tinggi (59%) melalui reformasi kesehatan, termasuk menyediakan obat antihipertensi dengan biaya rendah.
WHO menyerukan kepada semua negara untuk memasukkan program pengendalian hipertensi ke dalam reformasi jaminan kesehatan universal (UHC) mereka, sebagai langkah krusial untuk mencegah jutaan kematian dini.















