koransakti.co.id – Kita terbiasa melihat tanggal kedaluwarsa (expired date) pada setiap kemasan makanan. Susu basi dalam seminggu, roti berjamur dalam beberapa hari. Tapi ada satu makanan ajaib yang menolak hukum pembusukan tersebut: Madu.
Buktinya nyata. Saat para arkeolog menggali makam-makam kuno di Mesir, mereka sering menemukan pot berisi madu yang sudah berusia lebih dari 3.000 tahun. Yang mengejutkan, setelah dicicipi, madu tersebut masih aman dimakan dan rasanya tetap manis!
Bagaimana bisa madu bertahan selama ribuan tahun tanpa kulkas dan pengawet buatan? Jawabannya terletak pada “Sihir Kimia” yang diciptakan lebah.
1. Sangat Haus Air (Higroskopis)
Madu memiliki kadar air yang sangat rendah. Sifat ini disebut Higroskopis. Bakteri pembusuk dan jamur membutuhkan air (kelembapan) untuk hidup dan berkembang biak. Saat bakteri mencoba hinggap di madu, madu justru “menyedot” cairan dari tubuh bakteri tersebut hingga bakteri itu mati kekeringan. Tanpa bakteri yang bisa hidup, tidak ada proses pembusukan.
2. Senjata Rahasia: Hidrogen Peroksida
Saat lebah mengumpulkan nektar bunga, mereka menyimpannya di perut khusus. Di sana, nektar bercampur dengan enzim bernama Glukosa Oksidase. Saat lebah memuntahkan nektar itu ke sarang untuk jadi madu, enzim ini memecah gula dan menghasilkan produk sampingan berupa Hidrogen Peroksida. Senyawa ini adalah antiseptik alami (sama seperti cairan pembersih luka). Zat inilah yang membunuh segala mikroba yang mencoba merusak madu.
3. Tingkat Keasaman (pH)
Madu memiliki tingkat keasaman (pH) sekitar 3 hingga 4,5. Lingkungan yang asam ini sangat tidak ramah bagi bakteri Salmonella atau E. coli. Mereka tidak bisa bertahan hidup di “kolam asam” yang lengket ini.
Kesimpulan: Madu bisa menjadi “abadi” asalkan disimpan dalam wadah tertutup rapat. Jika toplesnya terbuka dan uap air masuk, madu akan menyerap air tersebut, dan saat itulah ia bisa mulai terfermentasi (rusak). Jadi, jangan lupa tutup rapat toples madu Anda!
Baca juga:














