koransakti.co.id – Hujan turun membasahi tanah kering, dan seketika udara dipenuhi aroma yang khas: segar, membumi, dan menenangkan. Kita sering menyebutnya “bau hujan” atau “bau tanah”.
Tahukah Anda bahwa air hujan murni sebenarnya tidak berbau? Aroma tersebut adalah hasil reaksi kimia dan biologi kompleks yang disebut Petrichor. Istilah ini diciptakan oleh ilmuwan Australia, Isabel Bear dan Richard Thomas, pada tahun 1964 dalam jurnal Nature.
Berikut adalah bedah ilmiah dari mana aroma ini berasal.
1. Geosmin: Parfum Buatan Bakteri
Pemeran utama dalam aroma ini adalah senyawa organik bernama Geosmin (C12H22O). Geosmin diproduksi oleh bakteri tanah dari genus Streptomyces (Actinobacteria). Saat tanah kering/kemarau, bakteri ini memproduksi spora untuk bertahan hidup. Spora inilah yang mengandung geosmin.
Fakta Menakjubkan: Hidung manusia sangat sensitif terhadap Geosmin. Kita bisa mencium baunya bahkan dalam konsentrasi 5 ppt (parts per trillion). Ini setara dengan kemampuan hiu mencium setetes darah di kolam renang olimpiade. Secara evolusi, kemampuan ini diduga membantu nenek moyang kita menemukan sumber air di padang sabana.
2. Minyak Tumbuhan (Plant Oils)
Selama periode kering, tanaman memproduksi minyak tertentu yang mengandung Asam Stearat dan Asam Palmitat. Minyak ini meresap ke dalam pori-pori tanah dan bebatuan. Minyak ini berfungsi menghambat pertumbuhan benih agar tidak tumbuh di saat kurang air. Saat hujan turun, minyak ini terlepas ke udara bercampur dengan Geosmin.
3. Mekanisme Aerosol (Studi MIT)
Pada tahun 2015, ilmuwan Massachusetts Institute of Technology (MIT) menggunakan kamera berkecepatan tinggi untuk merekam tetesan hujan. Mereka menemukan bahwa ketika butiran hujan menabrak tanah berpori, butiran itu menjebak gelembung udara kecil di bawahnya. Gelembung udara ini kemudian naik ke permukaan butiran air dan pecah (meletus) seperti buih pada minuman bersoda.
Letusan mikro inilah yang menyemprotkan partikel Aerosol ke udara. Aerosol ini membawa muatan Geosmin dan minyak tumbuhan tadi, lalu terbawa angin hingga terhirup oleh hidung kita.
Itulah sebabnya bau Petrichor paling kuat tercium saat hujan rintik-rintik di tanah kering. Jika hujan terlalu deras (badai), aerosol tersebut justru “tenggelam” dan tidak sempat terbang ke udara.
Baca juga:















