Menembus Abad ke-18 di FBK 2026: Intip Replika Tekstil Kulit Beruang hingga Macan Tutul Usia 300 Tahun dari Kecamatan Gunung Kerinci
Koransakti.co.id, Kerinci- Sejak di buka secara resmi oleh Wakil Gubernur Jambi, H.Abdullah Sani, bersama Bupati Kerinci Monadi dan jajaran pejabat daerah pada Kamis (22/10/2026), Festival Budaya Kerinci 2026 sukses menyedot perhatian ribuan pengunjung.
Penyelenggaraan (22–25 Oktober 2026), helat tahunan ini tak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, melainkan lorong waktu yang membawa masyarakat modern kembali menyelami akar sejarah Nusantara.
Di tengah deretan stan pameran kecamatan yang menghiasi arena festival, kehadiran stan Kecamatan Gunung Kerinci menjadi salah satu magnet yang memikat antusiasme warga pengunjung.
Menghidupkan Tradisi ‘Bekahang & Baselang’
Stan Kecamatan Gunung Raya tampil memukau dengan mengusung tema kebudayaan “Bekahang dan Baselang”. Hal ini di sampaikan Camat Gunung Kerinci Rifdi, S.Sos., M.Si., di dampingi Kepala Desa Baru Sungai Betung Mudik, Suhardi.
Rifdi menegaskan pentingnya menjaga tradisi leluhur agar tak tergerus pesatnya arus modernisasi.
“Melalui festival ini, kita di ajak kembali mengingat perjuangan nenek moyang serta mengenalkan kuliner dan peralatan tradisional zaman dahulu kepada generasi muda,” ujar Rifdi.
Hal senada juga di sampaikan oleh Kepala Desa Baru Sungai Betung Mudik, Suhardi. Ia mengungkapkan bahwa Bekahang dan Baselang adalah potret kearifan lokal masyarakat zaman dahulu saat bahu-membahu dan bergotong royong menangkap ikan.
Tak hanya tradisi tangkap ikan, Kecamatan Gunung Kerinci juga menghidupkan kembali rahasia kuliner kuno berusia satu abad bernama Kinco Gulai.
Buah Keliki yang digunakan oleh para leluhur sebagai pengganti olahan mmasakan pengganti santan
Masakan khas ini memiliki keunikan gastronomi tersendiri di masak tanpa santan, melainkan menggunakan olahan buah keliki sebagai bahan pengempuk dan penikmat rasa alami.
Pusaka Abad ke-18: Mengingat Kembali Kemahiran Kriya Leluhur
Di samping kuliner tempo dulu, stan Kecamatan Gunung Kerinci juga memboyong daya tarik unik yang langka dan sarat nilai sejarah yaitu, pengunjung di suguhi tampilan deretan replika tekstil tradisional berbahan kulit beruang, harimau, hingga macan tutul.
Benda-benda ini di rancang khusus untuk memvisualisasikan kembali pakaian dan perlengkapan pelindung tubuh yang di gunakan oleh nenek moyang masyarakat Gunung Kerinci pada abad ke-18 (sekitar tahun 1700-an).
Pajangan tekstil ini menggambarkan betapa tingginya kemahiran kriya dan daya tahan masyarakat Kerinci zaman dahulu dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya untuk bertahan hidup di tengah alam liar.
“Replika tekstil kulit beruang, harimau, dan macan tutul ini kami hadirkan sebagai pengingat akan sejarah dan kearifan lokal 300 tahun lalu. Ini adalah bukti autentik mengenai tangguhnya kehidupan para leluhur kami dalam menjaga wilayah dan menyatu dengan alam,” ujar Suhardi.
Tidak sekadar di pajang di dalam stan, replika tekstil dan busana tradisional berbahan kulit beruang, harimau, hingga macan tutul yang merepresentasikan warisan berusia 300 tahun tersebut juga di pakai langsung oleh pemudi Kecamatan Gunung Kerinci, mereka tampil mengenakan busana replika berbahan motif kulit hewan liar itu di area pameran.
Penampilan anggun sekaligus gagah ini membawa para pengunjung seolah melintasi lorong waktu menuju abad ke-18 (sekitar tahun 1700-an), menggambarkan pakaian serta perlengkapan pelindung tubuh yang di gunakan para leluhur saat menjaga wilayah dan menyatu dengan alam liar Kerinci.
“Replika tekstil kulit beruang, harimau, dan macan tutul ini kami hadirkan sebagai pengingat akan sejarah dan kearifan lokal 300 tahun lalu. Ini adalah bukti autentik mengenai tangguhnya kehidupan para leluhur kami dalam menjaga wilayah dan menyatu dengan alam,” ujar Camat Gunung Kerinci, Rifdi, S.Sos., M.Si., di dampingi Kepala Desa Baru Sungai Betung Mudik, Suhardi.

Keikutsertaan Kecamatan Gunung Kerinci pada Festival Budaya Kerinci 2016 dengan menampilkan replika tekstil kulit hewan berusia 300 tahun ini semakin memperkaya khazanah kebudayaan festival, sekaligus memastikan bahwa cerita dan nilai-nilai leluhur Bumi Sakti Alam Kerinci akan tetap hidup dan di wariskan kepada generasi mendatang. (Emi)

















