PT Pertamina (Persero) terus memperluas inisiatifnya dalam pengembangan energi berkelanjutan melalui program bertajuk Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini menjadi bagian dari strategi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan, dengan tujuan utama menciptakan desa mandiri energi berbasis potensi lokal dan teknologi energi terbarukan.
Program DEB difokuskan untuk mendorong kemandirian energi di pedesaan dengan memanfaatkan potensi lokal seperti tenaga surya, biogas, dan mikrohidro. Seluruh implementasi dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama—mulai dari perencanaan hingga pengelolaan sistem energi.
Hingga tahun 2025 ini, Pertamina telah menjalankan program DEB di 50 desa di seluruh Indonesia. Salah satu contohnya adalah Desa Lamboja, Sulawesi Selatan, yang kini memanfaatkan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk kebutuhan penerangan warga dan fasilitas umum secara mandiri.
🌱 Pilar Energi Terbarukan Berbasis Sosial
Corporate Secretary PT Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa program ini tidak sekadar soal listrik atau teknologi, melainkan menyasar pada peningkatan kualitas hidup warga desa secara menyeluruh. “Kami ingin desa tidak hanya terang, tetapi juga tumbuh mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Beberapa manfaat nyata dari program ini mencakup:
Peningkatan akses listrik di daerah terpencil,
Pengurangan emisi karbon,
Penciptaan lapangan kerja lokal melalui pengelolaan energi skala desa,
Pendidikan energi terbarukan berbasis komunitas.
Program ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dan poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim).
🔋 Teknologi dan Inovasi Lokal
Pertamina menggandeng berbagai pihak, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat dan instansi pendidikan, untuk memastikan pendekatan teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan lokal dan dapat dirawat oleh masyarakat setempat.
Penggunaan panel surya, biodigester, dan turbin mikrohidro menjadi pilihan teknologi yang fleksibel dan telah diterapkan di berbagai wilayah seperti Nusa Tenggara, Kalimantan, hingga Papua.















