Home / Ekonomi

Minggu, 3 Mei 2026 - 20:16 WIB

Waspada! Inflasi April 2026 Diprediksi Melonjak Akibat Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi dan Harga Pangan

Hari Sakti Fiagi - Penulis

Badan Pusat Statistik (BPS) segera mengumumkan data inflasi April 2026 yang diperkirakan mengalami kenaikan secara bulanan.

Badan Pusat Statistik (BPS) segera mengumumkan data inflasi April 2026 yang diperkirakan mengalami kenaikan secara bulanan.

koransakti.co.id – Masyarakat Indonesia nampaknya harus bersiap menghadapi laporan ekonomi yang cukup menantang pada awal Mei ini. Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan akan merilis data resmi mengenai inflasi periode April 2026 pada Senin, 4 Mei 2026 besok. Oleh karena itu, sejumlah ekonom mulai memprediksi adanya kenaikan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Pasalnya, kombinasi antara lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan fluktuasi harga kebutuhan pokok menjadi pemicu utama tekanan inflasi kali ini.

Proyeksi Konsensus Pasar dan Median Inflasi

Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun dari 13 institusi, IHK pada April 2026 diperkirakan akan mengalami inflasi sebesar 0,43% secara bulanan (month-to-month/mtm). Dalam hal ini, angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan inflasi Maret 2026 yang berada di level 0,41% (mtm). Sebab, meskipun secara tahunan inflasi diprediksi melandai ke angka 2,72% (year-on-year/yoy), tekanan pada sisi konsumsi rumah tangga tetap terasa nyata akibat kenaikan biaya hidup di beberapa sektor krusial.

Oleh sebab itu, inflasi inti pada April 2026 juga diperkirakan akan parkir di level 2,40% (yoy). Hal ini dikarenakan adanya pelemahan nilai tukar rupiah yang turut mendorong kenaikan pada sektor inflasi barang impor (imported inflation). Meskipun demikian, penurunan harga emas dan perhiasan dunia pada bulan sebelumnya diharapkan mampu memberikan sedikit ruang napas bagi beban inflasi inti secara keseluruhan.

Baca juga :   Bank Indonesia Siap Terbitkan Instrumen Baru BI-FRN untuk Dorong Kredit ke Sektor Riil

Dampak Drastis Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi

Faktor utama yang membayangi laporan inflasi besok adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi per 18 April 2026. Pasalnya, lonjakan harga ini tergolong sangat signifikan dan berdampak langsung pada biaya transportasi serta logistik. Berikut adalah rincian kenaikan harga BBM yang memicu tekanan ekonomi:

  • Pertamax Turbo: Melonjak drastis sebesar 48,1% dari harga Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter.

  • Dexlite: Mengalami kenaikan tajam hingga 66,2% dari Rp14.200 menjadi Rp23.600 per liter.

  • Pertamina Dex: Naik sekitar 64,8% dari posisi Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter.

Maka dari itu, Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan bahwa penyesuaian harga energi ini akan memberikan sumbangsih sekitar 0,04 poin persentase terhadap total inflasi bulanan. Selain itu, kenaikan harga tiket pesawat sebesar 3,13% (mtm) akibat meroketnya harga avtur juga turut memperparah kondisi ini, meskipun pola permintaan biasanya cenderung deflasi setelah masa Lebaran berakhir.

Fluktuasi Harga Pangan dan Sektor Penahan Inflasi

Di sisi lain, harga kebutuhan pokok di pasar domestik menunjukkan tren yang beragam selama bulan April. Sebab, rata-rata harga beras terpantau masih naik tipis sebesar 0,57% ke level Rp15.929/kg, sementara minyak goreng melonjak hingga 2,07% menjadi Rp22.229 per kg. Oleh karena itu, komoditas lain seperti gula, daging sapi, gandum, dan kedelai tetap menjadi kontributor rutin bagi angka inflasi bulanan.

Baca juga :   Cari Rumah di Bawah Rp 150 Juta? Ini 5 Pilihan Rumah Murah di Minahasa

Meskipun demikian, terdapat beberapa komoditas yang bertindak sebagai penahan laju inflasi agar tidak terbang terlalu tinggi. Pasalnya, harga cabai merah dan cabai rawit mengalami penurunan yang cukup dalam, masing-masing melandai sebesar 2,5% hingga jatuh 13,4%. Hal ini dikarenakan adanya masa panen di beberapa wilayah produksi yang membuat ketersediaan stok melimpah di pasaran. Intinya, pengumuman besok akan menjadi indikator krusial bagi daya beli masyarakat Indonesia di kuartal kedua tahun ini.

Kesimpulan Laporan inflasi April 2026 kemungkinan besar akan membawa kabar yang kurang menggembirakan bagi konsumen akibat mahalnya biaya energi dan beberapa bahan pokok. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu mewaspadai pelemahan rupiah yang bisa memperberat tekanan biaya produksi ke depannya. Tetaplah bersama koransakti untuk mendapatkan update informasi ekonomi terkini, ulasan riset pasar, dan berita menarik lainnya setiap hari.

Baca juga Kenduri Adat Kerinci: Bisa menjadi Stimulus Ekonomi Negeri

Berita ini 16 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bisnis

Mengulas Potensi Cuan ITMG: Saham “Murah” dengan Guyuran Dividen Rp 971 per Lembar

Bisnis

Enaknya Jadi Ketua Kelompok PNM Mekaar, Dapat Studi Banding Gratis ke UMKM Top!

Energi

Tarif Listrik April–Juni 2026 Tetap Stabil, Pemerintah Jaga Daya Beli dan Keandalan Energi Nasional

Bisnis

Harga Minyak Melonjak, Subsidi Membengkak

Ekonomi

Balas Aturan ‘Rare Earth’, Trump Ancam Tarif Tambahan 100% untuk Tiongkok

Bandung

Bupati Bandung Apresiasi PT.Bozzetto Indonesia Ekspor Produk 
Untung Berapa Investasi Emas Setahun? Panduan Lengkap untuk Pemula 2025

Bisnis

Untung Berapa Investasi Emas Setahun? Panduan Lengkap untuk Pemula 2025
IHSG Menguat, Cek 3 Rekomendasi Teknikal Saham Pilihan untuk Jumat (24/10)

Bisnis

IHSG Menguat, Cek 3 Rekomendasi Teknikal Saham Pilihan untuk Jumat (24/10)