Oleh : DEFI ASIKIN
Koran Sakti.co.id, Jakarta- Bahwa Luhut biasa mengumbar ucapan yang kata orang Sunda teu merenah matak tugenah, itu sudah biasa. Tidak aneh suraneh. Tapi ini sudah kelewat batas. Sudah kena peluit wasit dan free kick.
Masa 302 orang purnawirawan jenderal dibilang kampungan. Tak cukup sampai disitu. Mereka juga dipersona non grata. Disuruh pergi meninggalkan NKRI.
Termasuk disitu jendral Tri Sutrisno (90 tahun).
Penyebabnya tak lain dan tak bukan, kerena mereka atas nama Forum Purnawirawan TNI menyampaikan pernyataan sikap. Dari 8 pointer pernyataan sikap itu satu point adalah permintaan kepada MPR untuk memproses pencopotan Gibran Rakabuming Raka dari jabatan wakil presiden.
Tampak jelas apa yang dilakukan LBP semata demi taqlidnya kepada Joko Widodo. Ada hubungan spesial antara keduanya yang panjang membentang. Dari hutan belantara Kalimantan sampai pabrik mebel di Solo tahun 2009.
Saya sudah tulis beberapa tahun lalu dengan judul “Jangan pisahkan Jokowi dengan Luhut Binsar Panjaitan”.
Tapi masa segitunya, sampai sampai dia, kata teman saya di grup Diskusi Ngadu, kurang ajar. Masa Jendral Tri Sutrisno dibilang kampungan dan disuruh meninggalkan NKRI.
Mana hormatnya dia kepada atasan.
Dia demi seorang Gibran Rakabuming Raka, rela melanggar Sapta Marga dan sumpah prajurit.
Sapta Marga itu tidak ikut purnawira.
Menteri Pertahanan (2017) Riamizard Riakudu menegaskan itu.
Seorang purnawirawan tetap harus memegang teguh Sapta Marga dan sumpah prajurit.
Dalam senioritas, LBP itu ketinggal jauh dari Tri Sutrisno.
Tri itu lulusan ATEKAD (Bandung) 1959. Sedang LBP keluar AKABRI 1970. Dalam hal jabatan, Tri sempat jadi Panglima ABRI, sebelum jadi Wapres (ke 6).
LBP ? KASAD saja tidak sempat kesentuh.
Kok sekarang tega teganya bilang Tri Sutrisno kampungan dan go to hell from NKRI.
Itu mah bukan kurang sopan, tapi kurang ajar teriak Bambang BK dari grup Diskusi Ngadu Bako.
Saya juga sempat menulis:
“Luhut lagi , Luhut lagi , lagi lagi Luhut”.
Kata orang Sunda mah dasar biwir teu diwengku,letah teu tulangan. Ngomong seenak moncong.***















