Oleh :Dedi Asikin
Koran Sakti.co.id- Sekecil apapun kebaikan orang jangan dilupakan. Islam sangat mengajarkan tentang berbalas kebaikan. Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an tentang saling menghargai.
Prinsipnya kebaikan kita akan kembali kepada kita. Pun dengan kejahatan juga akan kembali kepada kita.
Ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang mengajarkan kita untuk menghargai kebaikan orang lain. Juga ada beberapa hadits Rasul.
Allah juga memperluas Al Hujurat 10 (Innamal muminuuna ikhwatun) bahwa sesama mukmin itu bersaudara dengan ayat lain dengan kalimat sesama manusia tanpa membedakan agama.
“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa. Jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran ( Al Maidah ayat 2).
Sebuah hadits Abu Dawud :
“Siapa yang memperoleh kebaikan dari orang lain, hendaklah dia membalasnya”
Membangun kebaikan dan tolong menolong adalah bagian dari rahmatan lil alamin. Rahmat bagi seluruh alam.
Adalah Djiauw Kie Siong. Gak usah sebut dia China. Katanya mereka tidak begitu nyaman dipanggil itu. Maunya disebut Tionghoa .
Dia Djiauw Kie Siong, telah memberikan kebaikan kepada seluruh bangsa ini.
Bagi dia penduduk kampung Bojong kecamatan Rengasdengklok kabupaten Karawang itu mungkin merasa perbuatan itu cuma hal sepele. Cuman meminjamkan rumah kepada pejuang kemerdekaan Indonesia untuk mengamankan dua tokoh nasional bung Karno dan bung Hatta.
Tapi apa yang pikir sepele itu impact-nya maha dahsyat.
Besok harinya 50 juta (Waktu itu) masyarakat Indonesia memperoleh kemerdekaan. Perjuangan bangsa ini berpuluh bahkan beratus tahun sababbiyahnya tuntas dengan kebaikan seorang warga Tionghoa dari suku Chungkojen bernama DjiauwKie Siong.
Yang harus kita renungkan sekarang, sudahkah kita membalas kebaikan dia. Atau setidaknya sudahkah kita mengucapkan terima kasih. Atau setidaknya kita berdoa untuk dia ?
Rasa rasanya kita Alfa melaksanakan tuntunan Allah dan rasul itu.
Faktanya keadaan rumah Djiauw masih utuh seperti sediakala ketika dipergunakan ngaso dua bung bung itu.
Belum ada pemugaran sama sekali.
Yang sudah ada baru keputusan pemkab Karawang menetapkannya rumah itu sebagai cagar budaya dan wisata sejarah.
Djiauw memang tidak punya keinginan apa apa . Kepada anak anaknya ia cuma berpesan tempat itu jangan dikosongkan.
Harus ada yang menunggui. Layani semua orang yang datang dengan baik.
Satu satunya Surat penghargaan yang ia sempat terima adalah dari Pandam III Siliwangi Mayor jenderal Ibrahim Adjie tahun 1961.
Surat itu, kalau mau dianggap sakral sekarang masih tergantung di salah satu ruangan rumah tua yang lusuh itu.
Yang sudah dipugar justeru makam Djiauw Kie Siong (wafat tahun 1964)
Tapi jangan salah, yang memugar bukan negara, bukan pemerintah. Juga bukan Pemda (provinsi atau kabupaten).
Yang punya gawe adalah Majlis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) .
Ketua MAKIN Budi S Tanu Wibawa mengakui Djiauw Kie Siong telah melintasi sekat (batas) agama, entitas dan budaya. Ia rela berkorban untuk orang banyak.
Sikap ini sejalan dengan ajaran Konghucu. Maka itulah kami berinisiatif memugar makam Djiauw tanpa melihat latar belakang entitas agama dan budaya.
Djiauw Kim Moy salah satu cucu yang 3 tahun lalu sedang kegiliran mendiami rumah pusaka itu menuturkan, kakeknya lahir tahun 1880 di kampung Pisangnambo kecamatan Tirtajaya kabupaten Karawang.
Tahun 1920 pindah ke kampung Bojong kecamatan Rengasdengklok kabupaten yang sama.
Ia berhasil menguasai lahan sekitar 2 hektar persis dipinggir kali Citarum perbatasan kabupaten Karawang dengan Bekasi.
Tahun,1950 karena banjir Citarum hampir menggusur rumah maka rumah itu secara gotong royong digeser sekitar 150 meter persis ditempat yang sekarang.
Di lahan 2 hektar itu Djiauw bertani macam macam sayuran.
Alih alih tuntunan Allah dan rasul kita tidak boleh melupakan kebaikan orang sekecil apapun, ndilalah kebaikan Djiauw Kie Siong itu bukan kecil lagi. Gede amat.
Kerelaan dia memberikan seluruh ruangan rumahnya kepada pejuang kita menyebabkan besoknya tanggal 17 Agustus 1945, 50 juta rakyat Indonesia memiliki negara yang merdeka dan berdaulat, namanya Republik Indonesia. Mbo Yo
kebaikan seorang Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong hargai dong
Nape ?
Dirgahayu 80 tahun NKRI.***















