Home / Internasional / Kesehatan / Sosial

Rabu, 3 September 2025 - 13:03 WIB

Data Baru WHO: Lebih dari 1 Miliar Orang di Dunia Hidup dengan Gangguan Mental

koransakti - Penulis

Tim kesehatan mental komunitas memberikan layanan perawatan di Ukraina pada tahun 2023. WHO menyerukan peningkatan layanan berbasis komunitas seperti ini di seluruh dunia untuk mengatasi krisis kesehatan mental. (Sumber: WHO / Christopher Black)

Tim kesehatan mental komunitas memberikan layanan perawatan di Ukraina pada tahun 2023. WHO menyerukan peningkatan layanan berbasis komunitas seperti ini di seluruh dunia untuk mengatasi krisis kesehatan mental. (Sumber: WHO / Christopher Black)

JENEWA, SWISS – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data terbaru yang mengejutkan pada hari Selasa (2/9/2025). Laporan tersebut mengungkap bahwa lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia kini hidup dengan gangguan kesehatan mental. Angka ini menunjukkan adanya krisis kesehatan global yang memerlukan tindakan segera.

Melalui dua laporan terbarunya, “World mental health today” dan “Mental Health Atlas 2024”, WHO mendesak semua negara untuk meningkatkan layanan kesehatan mental secara masif. Mereka menekankan bahwa kesehatan mental adalah hak asasi, bukan sebuah kemewahan.

Beban Berat Akibat Depresi dan Kecemasan

Laporan WHO menyoroti dampak besar dari gangguan mental. Kondisi seperti depresi dan kecemasan menjadi penyebab utama kedua disabilitas jangka panjang secara global. Gangguan ini tidak hanya membebani biaya layanan kesehatan, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Baca juga :   Teror Kepala Babi di Masjid-masjid Paris, Prancis Curigai Intervensi Rusia

Depresi dan kecemasan saja diperkirakan merugikan ekonomi global sebesar US$1 triliun (sekitar Rp15.000 triliun) setiap tahunnya. Kerugian ini terutama disebabkan oleh hilangnya produktivitas.

Selain itu, bunuh diri tetap menjadi isu yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2021 saja, diperkirakan ada 727.000 orang meninggal akibat bunuh diri. Angka ini menjadikannya salah satu penyebab utama kematian di kalangan anak muda.

Kesenjangan Besar dalam Layanan dan Pendanaan

Meskipun banyak negara telah memperkuat kebijakan kesehatan mental, laporan WHO menunjukkan adanya kesenjangan yang parah dalam implementasinya.

  • Pendanaan Stagnan: Anggaran pemerintah untuk kesehatan mental rata-rata hanya 2% dari total anggaran kesehatan. Angka ini tidak berubah sejak 2017.
  • Tenaga Kerja Kurang: Terdapat kekurangan tenaga kesehatan mental yang ekstrem, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
  • Akses Layanan Rendah: Di negara berpenghasilan rendah, kurang dari 10% orang yang terdampak menerima perawatan. Angka ini kontras dengan negara berpenghasilan tinggi yang mencapai lebih dari 50%.
Baca juga :   ESG dalam Konteks Global dan Relevansinya dengan Industri 5.0

Panggilan Mendesak untuk Bertindak

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan tindakan segera dari semua pemerintah.

“Berinvestasi dalam kesehatan mental berarti berinvestasi pada manusia, komunitas, dan ekonomi,” kata Dr. Tedros. “Setiap pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan perawatan kesehatan mental diperlakukan bukan sebagai hak istimewa, tetapi sebagai hak dasar untuk semua,” tegasnya.

WHO mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk segera melakukan reformasi sistemik. Langkah ini termasuk pembiayaan yang adil, reformasi kebijakan yang melindungi HAM, dan perluasan layanan berbasis komunitas.

Berita ini 195 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

Pep Guardiola Tembus 40 Trofi, Tegaskan Status sebagai Pelatih Elite Dunia
Sosok Asif Aziz: Miliarder Properti yang Mengubah Ikon London Menjadi Ruang Ibadah

Inspiratif

Sosok Asif Aziz: Miliarder Properti yang Mengubah Ikon London Menjadi Ruang Ibadah

Bandung

Update Keracunan MBG Bandung Barat: 1.244 Orang Sembuh, 65 Masih Dirawat

Advetorial

PT KMH Dukung RSUD Kerinci Lewat Bantuan Obat dan Bahan Medis

Hiburan

Kucing Eko Patrio yang Hilang Saat Penjarahan Ditemukan, Kini Jalani Perawatan Trauma

Internasional

Presiden RI Menerima Bintang Kebesaran Negara Brunei Darussalam

Ekonomi

Simulasi Luhut: Tarif Trump 19% Bisa Dongkrak Ekonomi RI

Internasional

Pidato Prabowo di PBB Tuai Pujian, Penulis Pidato SBY: Bangga dan Terharu