Home / Ekonomi / Internasional

Kamis, 17 Juli 2025 - 18:38 WIB

Simulasi Luhut: Tarif Trump 19% Bisa Dongkrak Ekonomi RI

koransakti - Penulis

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Instagram/luhut.pandjaitan

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Instagram/luhut.pandjaitan

Tarif Trump 19% bisa dongkrak ekonomi RI menurut simulasi terbaru dari Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dipaparkan oleh Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menyatakan bahwa jika Indonesia berhasil mendapatkan penurunan tarif dari Amerika Serikat, dari 32% menjadi 19%, dampaknya sangat signifikan terhadap produk domestik bruto (PDB) dan kesejahteraan nasional.

Dalam pemaparan resmi, Luhut menjelaskan dua skenario simulasi ekonomi. Pertama, jika tarif ekspor Indonesia tetap dikenai 32%, maka potensi pertumbuhan ekonomi terhambat. Skenario kedua memperlihatkan dampak positif dari pengurangan tarif menjadi 19%, yang disebut sebagai “tarif Trump” karena kebijakan itu muncul dari strategi ekonomi calon presiden AS, Donald Trump .

Hasil simulasi menunjukkan bahwa penurunan tarif akan mendorong ekspor nonmigas sebesar USD 5,6 miliar per tahun, yang berkontribusi terhadap peningkatan PDB hingga 0,8%. Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi menambah lebih dari 300 ribu lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum .

Baca juga :   WHO Beri Penghargaan pada 12 Negara atas Aksi Inovatif Atasi Krisis Obesitas

DEN juga menekankan bahwa Indonesia perlu menyesuaikan tarif impornya terhadap produk dari AS demi menciptakan keseimbangan perdagangan bilateral. Luhut menyebut bahwa penyesuaian itu adalah bagian dari strategi yang saling menguntungkan.

Pemerintah juga diminta untuk menyederhanakan regulasi dan mempercepat reformasi struktural agar dampak positif dari penurunan tarif ini bisa dioptimalkan. Sektor yang paling terdampak antara lain industri padat karya, manufaktur ringan, serta pertanian berorientasi ekspor.

Baca juga :   Inggris, Australia, dan Kanada Resmi Akui Negara Palestina; Israel Sebut Ini 'Hadiah untuk Terorisme'

Langkah ini juga dianggap strategis menjelang pemilu AS, mengingat potensi kembalinya Trump ke Gedung Putih. Menurut pengamat ekonomi internasional, Indonesia harus bisa membaca arah kebijakan global dan menyiapkan strategi antisipatif, baik secara bilateral maupun dalam kerangka multilateral seperti WTO.

Dari sudut pandang geopolitik, simulasi ini menandai posisi Indonesia yang semakin aktif dalam negosiasi dagang global. Alih-alih hanya sebagai penerima kebijakan, Indonesia kini mulai memanfaatkan data dan proyeksi untuk mengamankan kepentingan nasional di kancah internasional.

Dengan adanya simulasi ini, pemerintah diharapkan tidak hanya menunggu realisasi tarif, tapi juga segera merancang kebijakan insentif dan dukungan terhadap sektor-sektor strategis agar momentum ekonomi bisa langsung direspons secara konkret.

Berita ini 62 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Sarasehan Ekonom Islam: Refleksi Peran IAEI dalam Pembangunan Ekonomi Nasional

Ekonomi

Pemerintah Luncurkan Paket Ekonomi 2025, dan Program Penyerapan Tenaga Kerja

Bandung

Bupati Bandung Apresiasi PT.Bozzetto Indonesia Ekspor Produk 

Kebijakan

Langgar Aturan di Tengah Darurat, Bupati Aceh Selatan Diskors 3 Bulan
Lalu Lintas Selat Hormuz Lumpuh 95%, Krisis Energi Global Mengancam Pasca Perang

Internasional

Lalu Lintas Selat Hormuz Lumpuh 95%, Krisis Energi Global Mengancam Pasca Perang

Internasional

Real Madrid Lepas Dani Carvajal Gratis, Bintang Premier League Ini Siap Jadi Suksesor!
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Bisnis

IHSG Hari Ini 29 Oktober 2025 Merah, Asing Lepas Saham Big Banks (BBRI, BMRI)

Hiburan

4 Lagu K-Pop yang Masuk Daftar 250 Lagu Terbaik Abad 21 Versi Rolling Stone