PYONGYANG, KOREA UTARA – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menggelar sebuah upacara khusus pada hari Jumat (29/8/2025). Ia bertemu langsung dengan keluarga para tentara yang tewas saat berperang untuk Rusia di Ukraina. Media pemerintah Korut melaporkan acara duka ini pada hari Sabtu (30/8).
Acara ini secara terbuka mengonfirmasi kerugian jiwa yang dialami Korea Utara. Negara itu diketahui mengirimkan ribuan pasukannya untuk membantu invasi Rusia ke Ukraina. Upacara ini adalah yang kedua kalinya diadakan dalam sepekan terakhir.
Janji Kim dan Penghormatan bagi ‘Pahlawan’
Dalam upacara tersebut, Kim Jong Un terlihat menghibur keluarga yang berduka. Ia mengekspresikan “belasungkawa yang mendalam”. Ia juga menyerahkan potret para prajurit yang gugur, terbungkus bendera Korea Utara.
“Saya dipenuhi kesedihan karena gagal membawa para prajurit kembali hidup-hidup,” kata Kim seperti dilaporkan media pemerintah.
Kim berjanji akan membangun sebuah monumen untuk menghormati mereka. Ia juga bersumpah bahwa negara akan merawat anak-anak dari para prajurit yang tewas tersebut.
Ribuan Tentara Dikirim ke Medan Perang
Korea Utara secara resmi mengakui peran militernya dalam konflik ini pada bulan April lalu. Pihak Korea Selatan memperkirakan Pyongyang telah mengirim sekitar 15.000 tentara ke Ukraina.
Sebagai imbalannya, Korea Utara diyakini menerima bantuan pangan, uang, dan bantuan teknis dari Rusia. Namun, pengiriman pasukan ini memakan korban yang tidak sedikit. Pejabat Barat memperkirakan jumlah korban tewas dari pihak Korut mencapai ratusan, bahkan mungkin ribuan prajurit.
Kerja Sama Pyongyang dan Moskow Semakin Erat
Upacara ini menegaskan aliansi yang semakin erat antara Korea Utara dan Rusia. Kedua pemimpin, Kim Jong Un dan Vladimir Putin, dijadwalkan akan bertemu di Tiongkok minggu depan. Pertemuan itu akan menjadi yang ketiga bagi mereka dalam dua tahun terakhir.
Rusia dan Korea Utara juga sedang dalam proses meratifikasi pakta militer. Pakta tersebut berisi janji bahwa kedua negara akan saling membantu jika salah satu pihak menghadapi “agresi” dari luar.
Bagi militer Korea Utara, perang di Ukraina menjadi pengalaman tempur modern pertama mereka di luar negeri. Hal ini dipandang dapat meningkatkan kapabilitas tempur pasukan mereka secara signifikan.















