Home / Internasional / Konflik / Politik

Sabtu, 6 September 2025 - 13:15 WIB

Putin Tolak Rencana Pasukan Penjamin Keamanan di Ukraina, Ancam Jadi Target Sah

koransakti - Penulis

Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menolak rencana pengerahan pasukan internasional di Ukraina dan memperingatkan bahwa mereka akan menjadi

Presiden Rusia Vladimir Putin. Ia menolak rencana pengerahan pasukan internasional di Ukraina dan memperingatkan bahwa mereka akan menjadi "target yang sah". (Sumber: VLADIMIR SMIRNOV/TASS/HANDOUT)

MOSKWA, RUSIA (KORANSAKTI) – Presiden Rusia Vladimir Putin menolak mentah-mentah usulan dari negara-negara Barat. Usulan itu terkait pengerahan “pasukan penjamin keamanan” di Ukraina setelah gencatan senjata tercapai. Putin bahkan memperingatkan bahwa setiap pasukan asing yang dikerahkan akan menjadi “target yang sah” bagi militer Rusia.

Penolakan keras ini disampaikan setelah 26 negara sekutu Ukraina bertemu dalam sebuah konferensi tingkat tinggi di Paris. Dalam pertemuan itu, mereka secara resmi berkomitmen untuk rencana keamanan tersebut.

Rencana ‘Pasukan Penjamin Keamanan’ dari Barat

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengumumkan hasil pertemuan di Paris pada hari Kamis (4/9). Ia menyatakan 26 negara sekutu siap mengerahkan pasukan “melalui darat, laut, atau udara” untuk menjamin keamanan Ukraina saat pertempuran berhenti.

Baca juga :   Pengakuan Negara Palestina Disambut Gembira, Namun Disertai Ketakutan Aneksasi Israel

Macron menegaskan bahwa pasukan ini bertujuan untuk mencegah “agresi besar baru” di masa depan. Ia juga menekankan bahwa pasukan tersebut tidak akan ditempatkan di garis depan dan tidak bertujuan untuk berperang melawan Rusia.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyambut baik keputusan ini. Ia menyebutnya sebagai langkah konkret pertama untuk keamanan negaranya.

Peringatan Keras dari Kremlin

Vladimir Putin dengan cepat menanggapi inisiatif tersebut. Dalam sebuah forum ekonomi di Vladivostok, ia mempertanyakan perlunya kehadiran pasukan asing di Ukraina jika perdamaian jangka panjang telah tercapai.

Juru bicaranya, Dmitry Peskov, bahkan lebih keras. Ia mengatakan kepada BBC bahwa pasukan asing, baik dari NATO maupun bukan, akan menjadi bahaya bagi Rusia. “Karena kami adalah musuh NATO,” ujarnya.

Baca juga :   Pilkada Pangkalpinang Makin Panas! Adi Kodok Resmi Daftar Di Partai Nasdem

Putin sendiri mengatakan bahwa ia siap untuk berkomunikasi dengan Zelensky, namun ia tidak melihat banyak gunanya. “Hampir mustahil untuk mencapai kesepakatan dengan pihak Ukraina mengenai isu-isu utama,” kata Putin.

Jalan Buntu Menuju Gencatan Senjata

Saat ini, harapan untuk gencatan senjata dalam waktu dekat tampak suram. Ukraina meyakini gencatan senjata harus disepakati terlebih dahulu sebelum negosiasi damai yang lebih luas. Sebaliknya, Rusia bersikeras bahwa kampanye militernya tidak akan berakhir sebelum ada kesepakatan damai penuh.

Para pemimpin Barat percaya bahwa Rusia hanya mengulur-ulur waktu. Tujuannya adalah untuk merebut lebih banyak wilayah Ukraina seiring berjalannya perang yang telah berlangsung selama 42 bulan ini.

Berita ini 50 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Politik

Erzaldi Rosman Dukung Penghapusan Piutang Macet UMKM: Dampak Positif bagi Ekonomi Babel

Internasional

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, FIFA Siap Tambah Peserta Jadi 64 Tim di 2030?

Internasional

Inggris, Australia, dan Kanada Resmi Akui Negara Palestina; Israel Sebut Ini ‘Hadiah untuk Terorisme’

Inspiratif

Pelukis Asal Azerbaijan Bernama Tunzale Memmedzade Berhasil Menulis Ulang Alquran Dengan Tinta Emas Di Atas Kain Sutra

Ekonomi

PKS: Kebijakan Ekonomi Kerakyatan Prabowo Sejalan dengan Ayat Allah

Internasional

Kementerian Luar Negeri RI Intensifkan Koordinasi, Imbau WNI di Timur Tengah Tingkatkan Kewaspadaan dan Tunda Perjalanan

Bisnis

Buttonscarves ‘Taklukkan’ Paris, Sulap Kafe di Depan Menara Eiffel

Artikel

Analisis Parade Militer Tiongkok: Sinyal Kekuatan di Balik Visi Tatanan Dunia Baru Xi Jinping