koransakti.co.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis dua laporan terbaru yang memberikan peringatan keras mengenai ancaman resistensi antimikroba (AMR) atau bakteri yang kebal terhadap obat. Laporan tersebut mengungkap adanya krisis ganda: riset untuk menemukan antibiotik baru berjalan lambat dan tidak inovatif, sementara alat diagnostik yang dibutuhkan untuk mendeteksi infeksi juga sangat kurang.
WHO menegaskan bahwa tanpa tindakan segera, dunia akan kesulitan mengatasi penyebaran infeksi bakteri yang kebal obat.
Pipa Riset Antibiotik ‘Bocor’: Inovasi Melambat
Laporan pertama WHO menganalisis kandidat-kandidat antibakteri yang sedang dalam tahap pengembangan klinis dan praklinis. Temuannya sangat mengkhawatirkan:
- Jumlah Kandidat Menurun: Jumlah antibakteri dalam jalur pengembangan klinis menurun dari 97 pada tahun 2023 menjadi hanya 90 pada tahun 2025.
- Kurang Inovatif: Dari 90 kandidat tersebut, hanya 15 yang dianggap benar-benar inovatif.
- Tidak Efektif Lawan Bakteri Kritis: Hanya 5 dari 90 kandidat yang terbukti efektif melawan setidaknya satu jenis bakteri dalam kategori “kritis” WHO, yaitu kategori patogen paling berbahaya.
- Ekosistem Riset Rapuh: 90% perusahaan yang terlibat dalam riset praklinis adalah perusahaan kecil, yang menunjukkan betapa rapuhnya ekosistem R&D antibiotik saat ini.
Kesenjangan Kritis pada Alat Diagnostik
Laporan kedua menyoroti pentingnya alat diagnostik dalam mengendalikan AMR, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Namun, WHO menemukan adanya kesenjangan yang persisten, di antaranya:
- Tidak adanya alat yang bisa mendeteksi infeksi aliran darah secara cepat tanpa melalui proses kultur.
- Kurangnya akses terhadap tes sederhana untuk membedakan antara infeksi bakteri dan virus (yang sering menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak perlu).
- Terbatasnya alat diagnostik yang simpel dan mudah digunakan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Seruan Aksi Mendesak dari WHO
Asisten Direktur Jenderal WHO, Dr. Yukiko Nakatani, menyatakan bahwa situasi ini sangat mendesak. “Resistensi antimikroba terus meningkat, tetapi jalur penemuan pengobatan dan diagnostik baru tidak cukup untuk mengatasi penyebaran infeksi bakteri yang kebal obat,” ujarnya.
“Tanpa investasi lebih besar dalam R&D… infeksi yang kebal obat akan terus menyebar,” tegasnya.
WHO secara spesifik menyerukan investasi yang lebih besar pada alat-alat yang dirancang untuk negara dengan sumber daya terbatas. Kedua laporan ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi para peneliti, industri, dan pemerintah untuk mengarahkan kembali fokus dan investasi mereka guna mengatasi ancaman AMR secara lebih efektif.















