koransakti.co.id – Partai pro-Uni Eropa (UE) yang dipimpin oleh Presiden Moldova, Maia Sandu, berada di jalur kemenangan telak dalam pemilihan parlemen yang krusial bagi masa depan negara tersebut. Berdasarkan hasil sementara, Partai Aksi dan Solidaritas (PAS) pimpinannya berhasil mengamankan sekitar 50% suara.
Kemenangan ini memberikan PAS mayoritas kursi di parlemen dan memperkuat jalur Moldova untuk bergabung dengan Uni Eropa. Namun, proses pemilu ini dibayangi oleh berbagai insiden dan tuduhan intervensi besar-besaran dari Rusia.
Kemenangan yang Dibayangi Intervensi
Sebelum pemungutan suara, Presiden Sandu telah memperingatkan adanya potensi “intervensi masif dari Rusia” yang bertujuan mengganggu pemilu. Kekhawatiran ini tampak terbukti dengan terjadinya sejumlah insiden pada hari pemungutan suara, Minggu (28/9).
Pihak berwenang melaporkan adanya ancaman bom di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS), baik di Moldova maupun di luar negeri seperti Italia dan Rumania. Selain itu, polisi juga menangkap tiga orang yang diduga merencanakan kerusuhan pasca-pemilu. Ketua partai PAS, Igor Grosu, menuding kelompok kriminal yang didukung Moskow berada di balik insiden-insiden ini.
Oposisi Pro-Rusia Tolak Hasil dan Serukan Protes
Di sisi lain, blok oposisi pro-Rusia yang dipimpin oleh Igor Dodon menolak untuk menerima hasil awal. Bahkan sebelum penghitungan suara dimulai, Dodon telah mengklaim kemenangan dan menyerukan para pendukungnya untuk turun ke jalan di depan gedung parlemen pada hari Senin (29/9) untuk “mempertahankan” suara mereka.
Blok pro-Rusia ini hanya memperoleh kurang dari 25% suara, jauh tertinggal dari partai pro-UE pimpinan Sandu.
Masa Depan Eropa vs Pengaruh Moskow
Pemilu kali ini dianggap sebagai referendum atas arah masa depan Moldova. Para pemilih yang mendukung Sandu mengungkapkan keinginan mereka untuk masa depan yang lebih dekat dengan Eropa, terutama di tengah kekhawatiran akan agresi Rusia seperti yang terjadi di negara tetangga, Ukraina.
Sebaliknya, sentimen pro-Rusia masih kuat di beberapa kalangan, terutama di wilayah separatis Transnistria. Namun, jumlah pemilih dari wilayah tersebut dilaporkan menurun drastis tahun ini karena berbagai kendala, yang oleh pihak oposisi disebut sebagai upaya penghalangan.
Dengan kemenangan ini, Presiden Maia Sandu mendapatkan mandat kuat untuk melanjutkan agenda reformasi dan integrasi negaranya ke dalam Uni Eropa, meskipun tantangan dari dalam dan luar negeri dipastikan akan terus berlanjut.















