Home / Internasional / Lingkungan

Kamis, 2 Oktober 2025 - 10:46 WIB

Jane Goodall, Ilmuwan yang Mengubah Dunia, Meninggal Dunia di Usia 91 Tahun

koransakti - Penulis

Dame Jane Goodall mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari simpanse dan mengadvokasikan pelestarian alam di seluruh dunia. (Sumber: Getty Images)

Dame Jane Goodall mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari simpanse dan mengadvokasikan pelestarian alam di seluruh dunia. (Sumber: Getty Images)

koransakti.co.id – Dunia sains dan konservasi berduka. Dame Jane Goodall, seorang primatolog dan aktivis lingkungan legendaris yang merevolusi pemahaman kita tentang simpanse, telah meninggal dunia pada usia 91 tahun. Sepanjang hidupnya, ia menjadi kekuatan yang tenang namun gigih dalam misinya untuk melindungi hewan dan alam.

Kabar duka ini mengejutkan para ilmuwan dan peneliti di seluruh dunia yang terinspirasi oleh dedikasi dan energinya yang tak pernah padam.

Penemuan Revolusioner di Hutan Gombe

Karya Jane Goodall selamanya mengubah cara manusia memandang primata. Salah satu penemuannya yang paling menggemparkan terjadi pada tahun 1960 di cagar alam Gombe, Tanzania.

Saat itu, ia mengamati seekor simpanse jantan mengambil ranting, melucuti daunnya, lalu menggunakannya sebagai alat untuk “memancing” rayap dari sarangnya. Observasi ini menghancurkan keyakinan yang telah lama dipegang bahwa hanya manusia yang mampu membuat dan menggunakan alat.

Baca juga :   Dominasi Asia di Birmingham: Hasil Lengkap Final All England 2026

Penelitiannya di Gombe juga mengungkap bahwa simpanse memiliki kehidupan sosial yang kompleks, membentuk ikatan keluarga yang kuat, dan bahkan terlibat dalam “peperangan” untuk memperebutkan wilayah.

Hadapi Skeptisisme dengan Metode Unik

Pada awalnya, dunia ilmiah yang didominasi laki-laki memandang sinis metode Goodall. Ia tidak memiliki pelatihan ilmiah formal dan pendekatannya dianggap tidak biasa. Ia berinteraksi sangat dekat dengan hewan yang ia teliti, memberi mereka nama, dan bahkan menyebut mereka sebagai “teman-temannya”.

Namun, mentornya, Profesor Louis Leakey, justru melihat nilai dalam perspektifnya yang segar. “Dia menginginkan seseorang yang pikirannya tidak dirusak oleh sikap reduksionis dari sains terhadap hewan,” kenang Goodall dalam sebuah wawancara.

Dari Peneliti Menjadi Aktivis Global

Pada akhirnya, Jane Goodall mengalihkan fokusnya dari pengamatan simpanse secara langsung menjadi seorang aktivis global. Ia rela “menyerahkan apa yang ia cintai”—menghabiskan waktu bersama simpanse—untuk tanpa lelah berkeliling dunia menyebarkan pesan tentang pentingnya melindungi alam.

Baca juga :   Selamatkan Burung Langka, Drone Jatuhkan Jutaan Nyamuk di Hutan Hawaii

“Kita masih memiliki jendela waktu untuk memperlambat perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati,” katanya kepada BBC pada tahun 2024. “Tapi ini adalah jendela yang sedang menutup.”

Kini, dunia kehilangan salah satu ilmuwan terhebatnya. Namun, seperti yang dikatakan oleh Profesor Cat Hobaiter, salah satu ilmuwan yang terinspirasi olehnya, “Jane akan menjadi orang pertama yang memberitahu kita bahwa yang dibutuhkan dunia saat ini bukanlah kesedihan atas kehilangannya, tetapi untuk mulai bekerja.” Warisan terbesarnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk melanjutkan perjuangannya.

Berita ini 62 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Sejarah Baru! Lucas Pinheiro Braathen Persembahkan Emas Olimpiade Musim Dingin Pertama untuk Brasil

Internasional

Sejarah Baru! Lucas Pinheiro Braathen Persembahkan Emas Olimpiade Musim Dingin Pertama untuk Brasil

Internasional

Indonesia Kirim 10 Truk Berisi 15.000 Paket Bantuan untuk Warga Gaza

Internasional

Laporan WHO: 1,4 Miliar Orang Hidup dengan Hipertensi, Mayoritas Tak Terkontrol

Breaking news

Memperingati 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika, 14 Duta Besar Afrika Berkunjung Ke Bandung

Internasional

Denmark vs Makedonia Utara, Laga Penentuan Tiket Piala Dunia 2026

Internasional

Klopp Naik Pitam Dikaitkan ke Real Madrid: “Itu Cuma Isu Tak Berdasar!”

Internasional

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, FIFA Siap Tambah Peserta Jadi 64 Tim di 2030?

Internasional

Veda Ega Pratama Start dari Posisi Keempat di Moto3