PARIS, PRANCIS (KORANSAKTI) – Serangkaian aksi provokatif yang menargetkan tempat ibadah mengguncang Paris. Sembilan masjid di sekitar ibu kota Prancis menjadi sasaran peletakan potongan kepala babi pada malam hari tanggal 8 September 2025. Insiden ini memicu kecurigaan kuat dari otoritas Prancis terhadap adanya campur tangan asing.
Kepolisian dan kejaksaan Paris kini sedang menyelidiki kemungkinan kejahatan kebencian ini disponsori oleh negara asing, dengan Rusia sebagai salah satu pihak yang dicurigai.
Pelaku Diduga Warga Asing yang Telah Kabur
Menurut Kepala Polisi Paris, Laurent Nunez, rekaman CCTV menunjukkan dua pria yang bertanggung jawab atas aksi tersebut. Keduanya teridentifikasi sebagai warga negara asing dan dilaporkan telah meninggalkan Prancis setelah melakukan aksinya.
“Tindakan ini memiliki niat yang jelas untuk menimbulkan keresahan di dalam negeri,” bunyi pernyataan dari kantor kejaksaan Paris, Kamis (11/9).
Jejak pelaku terlacak dari seorang peternak di Normandia yang menjual sekitar 10 kepala babi kepada dua orang asing dengan mobil berpelat nomor Serbia. Peternak tersebut curiga karena mereka tidak menggunakan pendingin dan langsung melapor ke pihak berwenang.
Pola Serupa dengan Insiden Sebelumnya
Insiden kepala babi ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan serangkaian aksi kebencian lain yang terjadi di Prancis sebelumnya. Pihak berwenang melihat adanya pola di mana pelaku adalah orang asing yang diduga dibayar untuk memicu ketegangan.
- Mei 2024: Tiga warga Bulgaria diduga melukis grafiti tangan merah di Tembok Peringatan Holocaust di Paris. Kejaksaan menuding Rusia berada di balik aksi ini.
- Oktober 2023: Puluhan grafiti Bintang Daud dicat di berbagai bangunan di Paris. Seorang pria Moldova yang diduga menjadi dalangnya ditangkap, dengan kemungkinan adanya hubungan dengan Rusia.
Sebuah sumber intelijen pertahanan Prancis mengatakan kepada CNN bahwa aksi-aksi ini adalah “manuver dari kelompok pro-Rusia.”
Upaya Memecah Belah Masyarakat
Kepala Polisi Paris, Nunez, menegaskan bahwa tujuan utama di balik serangkaian provokasi ini adalah untuk memecah belah masyarakat Prancis. “Tujuannya adalah untuk mengipasi api perpecahan,” katanya.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Prancis dan Rusia, terutama karena dukungan kuat Presiden Emmanuel Macron terhadap Ukraina. Di saat yang sama, Prancis juga sedang menghadapi lonjakan aksi Islamofobia dan anti-Semitisme di dalam negeri.















