Home / Artikel

Rabu, 3 September 2025 - 17:15 WIB

PERINTAH IQRO, (MEMBACA), SEBUAH SIMBOL

koransakti - Penulis

Oleh : Dedi Asikin (Wartawan pengamat dan aktivis Sosial)

Koran Sakti.co.id- Banyak orang berdenyit dahi ketika mendengar, Allah telah menurunkan surat AL A’la dan menyuruh Muhammad membacanya.

Iqro !Iqro!, Iqro!

Sampai tiga kali katanya. Wallahu alam

Mustahil, alias tidak mungkin, Allah tidak tahu bahwa Muhammad, nabi terakhirnya itu terakhir, tidak bisa membaca alias Buta huruf.

Ahli tafsir Al Misbah, Prof.Dr Kiyai Haji Qurais Sihab mengungkap dalam sebuah kajian, bahwa perintah Allah itu bermakna simbolis. Bukan membaca secara leterlek. Bukan A, ba, ta, sa atau a,b,c,d. Yang dibaca adalah pertanda, situasi dan kondisi, Bagaimana dan apa yang sedang dan akan dilakukan oleh orang kaum Qurais yang memusuhi rasul dan menolak Islam. Jadi ada unsur unsur kerja intelejensi. Bukan membaca huruf huruf.

Yang harus dibaca secara leterlek leterlek justeru, adalah rilis dari Unesco  (United Nation Educational and Cultural Organition). Organisasi sayap PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan Kebudayaan itu, baru saja (2023) merilis hasil penelitian di 193 negara anggotanya. Direktur jenderal, UNESCO yang baru terpilih kembali (ibu) Andrey Zoulay mengatakan bahwa Indeks Minat Baca masyarakat Indonesia sangat rendah

Baca juga :   Review Fizzo Novel 2026: Hobi Baca Cerita Dibayar Saldo DANA? Ini Cara Kerjanya!

Katanya hanya 0,00%. Artinya hanya satu dari 1.000 orang yang masih suka membaca (reading habbit atau interst of reading). Secara peringkat Indonesia berada diangka 60, dibawah bawah Vietnam (59), diatas ZBBotnawa(61).

Padahal, kata Bu Andrey, infrastruktur baca di Indonesia lebih baik dari beberapa negara Eropah. Indonesia ini buku cetak masih banyak. Sekarang buku digital telah banjir. Apanya yang salah ?.

Kementerian Kominfo tahun 2018 telah menemukan fakta kesalahan yang terjadi dalam sistim pembelajaran di sekolah kita. Membaca belum dominan. Menulis dan berhitung masih kuat.

Kondisi itu menyebabkan anak didik sebagai obyek pembelajaran belum terpacu gairah membacanya.

Ini sekedar pengalaman, saya. Siapa tahu ada yang sedikit tercerahkan, meski bagai lampu lilin yang kelap kelip ditiup angin.

Saya terpaksa bukan senang membaca. Saya harus membaca agar bisa menulis. Saya suka menulis sejak SMP. Dulu beberapa cerpen dimuat di majalah Priangan yang terbit di Tasikmalaya dipimpin oleh pak Haridudin Ahmad Melayu

Baca juga :   Dongkrak Karier Global, Kemendikdasmen Resmi Luncurkan Program SMK 3+1 ke Luar Negeri

Dulu saya harus menyisihkan uang honor atau rezeki tak terduga , untuk beli satu atau dua judul buku. Buku itu tersimpan dalam dua lemari di rumah.

Sekarang saya juga ikut alih teknologi, dari buku buku cetak ke e book alias teknologi digital .

Cuma klik HP atau komputer, tidak lagi ngacak ngacak lemari sampai berantakan kaya kapal pecah

Buka Google, telusur. Semua referensi tulisan ada di situ. Tapi yang pasti, harus tetap membaca layar kaca. Kalau tidak, ya tidak bisa tidak bisa menulis atuh.

Tapi, itu sindiran Dirjen UNESCO , ibu Andrey, Azoulay harus kita jawab. Presentase IMB harus naik masa cuma 0,001. Malu Maluin.

Upaya itu, paling tidak harus menjewer dua menteri, Kominfo ( ibu Meutya Hafid dan Mendiknas ( Bapak Abdul Mu’ti)

Iqro, bismiroobikalladzi khalaq Bacalah dengan nama Tuhan yang mencipta.

Setiap bulan @April, mulai tahun 1955 Unesco selalu merilis hasil penelitiannya. Kalau masih zero koma zero zero malu dong aahh.**

Berita ini 59 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

MISTERI SUPERSEMAR 

Artikel

Tomat Ceri Kecil Nan Cantik, dengan Segudang Khasiat

Artikel

INI KATA ICW, PRESIDEN KOMITMEN MELULU

Artikel

BIOGRAFI PROF DR KRISNA HARAHAP SH MH SEBUAH PENOMENA

Artikel

16 BANK RONTOK KESODOK BANK EMOK 

Artikel

KDM DAN MANG IHIN CIRI SABUMI CARA SADESA JAWADAH TUTUNG BIRITNA 

Artikel

Laptop Lemot Bikin Emosi? Ini Penyebab Umum dan Cara Mengatasinya
Sahur Pertama Pas Libur Imlek? Cobain 3 Resep "Chinese Food" Halal & Praktis Ini. Cuma 10 Menit, Perut Nyaman & Gak Bikin Haus Seharian!

Artikel

Sahur Pertama Pas Libur Imlek? Cobain 3 Resep “Chinese Food” Halal & Praktis Ini. Cuma 10 Menit, Perut Nyaman & Gak Bikin Haus Seharian!