Home / Artikel

Minggu, 26 Oktober 2025 - 19:43 WIB

ALAM PIKIRAN PLATO

koransakti - Penulis

Oleh: INDRA KUSUMA

Koransakti.co.id- Plato lahir di Athena tahun 427 sebelum masehi, dan meninggal pada tahun 347 sebelum masehi dalam usia 80 tahun, dengan nama kecil nya Aristokles, berasal dari keluarga aristokrasi turun temurun memegang peranan penting di Athena, dan bercita-cita menjadi seorang negarawan, kemudian menjadi murid Sokrates seorang filosof yang sangat terkenal.

Plato seorang filsuf Yunani mengajak kita untuk melihat keadilan bukan sebagai sesuatu yang hanya di ukur dengan timbangan yang sama berat. Ia menolak gagasan sederhana bahwa adil berarti “sama rata.” Sebab hidup, bagi Plato, bukanlah lahan kosong yang di bagi rata menjadi petak-petak yang sama. Hidup adalah orkestra, di mana setiap alat musik punya perannya sendiri. Yang membuat harmoni lahir bukanlah keseragaman bunyi, melainkan keserasian nada. Maka, keadilan adalah ketika setiap orang memainkan perannya, sesuai kodrat dan kemampuannya.

Bayangkan di satu kota di mana semua orang menuntut bagian yang sama dari kekayaan, jabatan, atau kekuasaan. Sekilas tampak adil. Tapi Plato berkata: itu bukan keadilan, itu hanya keseragaman. Dan keseragaman yang di paksakan bukanlah keadilan. Sama rata semacam itu adalah bentuk ketidakadilan yang tersamar. Sederhana nya keadilan itu setiap orang mendapatkan sesuai porsi kemampuan nya.

Di titik ini, Plato berbicara: bahwa manusia memang tidak sama. Tetapi ketidak samaan itu bukan untuk di rendahkan. Ia adalah pengakuan akan keragaman fungsi. Sama seperti tubuh: mata tidak sama dengan tangan. Namun tubuh hanya bisa sehat jika setiap bagian bekerja sesuai kodratnya. Maka, adil adalah ketika tangan tidak mencoba untuk melihat, dan mata tidak mencoba untuk menggenggam.

Di dalam masyarakat modern bisa disalah tafsirkan menjadi legitimasi kasta atau strata sosial. Tetapi disinilah kepekaan intuisi bekerja: menafsirkan pikiran Plato tanpa terjebak dalam dogma. Keadilan adalah memastikan harmoni tidak berubah menjadi penindasan. Keadilan berarti memberi ruang agar setiap orang bertumbuh secara optimal.

Baca juga :   Pojok Sains: Kenapa Kita Mabuk Perjalanan Saat Main HP di Mobil? (Konflik Mata vs Telinga)

Sebab ketidak adilan pasti melahirkan ironi. Contohnya masyarakat yang dibebani berbagai macam pajak, tapi hasilnya tidak kembali untuk kepentingan bersama, hanya dinikmati oleh mereka para pemegang kekuasaan. Dalam moralitas yang buruk seperti ini, keadilan itu sebenarnya telah mati. Dan inilah bentuk ironi penindasan terselubung.

Contoh lain dalam satu negara Republik, bila keadilan tidak dijaga, ia akan merosot ke bentuk yang lebih rendah. Ia seperti tubuh manusia yang sehat, tapi bila salah rawat, akan melemah, lalu sakit, lalu sekarat. Bagi Plato, negara bukanlah bangunan batu yang kokoh selamanya, melainkan organisme hidup yang bisa menua dan rusak.

Ia memulainya dari gambaran negara yang ideal: diperintah oleh para filsuf, dengan integritas sebagai pengendali, keberanian sebagai penjaga, dan kejujuran sebagai pondasi. Disinilah keadilan hadir, karena setiap bagian menempati sesuai kapasitas nya. Tapi Plato maklum: keadaan inipun rentan bisa rapuh. Nafsu, ambisi, dan keserakahan manusia selalu jago mencari celah.

Turunlah negara itu ke bentuk yang disebut Timokrasi negara yang dipimpin orang-orang yang haus kehormatan. Awalnya masih ada keberanian, disiplin, bahkan cita-cita mulia. Tetapi perlahan, semangat itu berubah jadi obsesi nama besar, nepotisme dan dinasti. Negara mulai hilang keseimbangan. Nafsu mulai mengambil peran lebih besar.

Dari sini lahirlah Oligarki dan kekuasaan pun berpindah ke tangan sekelompok orang. Mereka pandai menguasai sumber daya, mengeliminir kaum miskin, dan menjadikan harta sebagai ukuran nilai manusia. Pada tahap ini, keadilan semakin kabur. Yang miskin kian terpinggirkan, yang kaya semakin berkuasa. Negara terbelah dalam jurang sosial yang dalam. Korupsi merajalela, penyalahgunaan kekuasaan, hilangnya partisipasi dan representasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Ketidakpuasan rakyat terhadap Oligarki melahirkan Demokrasi tapi bukan Demokrasi yang sehat, melainkan Demokrasi yang transaksional. Lalu semua orang ingin setara dalam segala hal, kebebasan dijadikan dewa. Suara siapa pun, seberapapun bodohnya, disamakan dengan yang bijak. Pada titik ini, negara kehilangan arah. Kebebasan tanpa kendali berubah jadi kekacauan.

Baca juga :   PARIWISATA HARUS JADI AKIBAT

Dan dari kekacauan itulah lahir tirani. Seorang pemimpin muncul, menjanjikan ketertiban dan keamanan. Awalnya ia tampil sebagai pahlawan rakyat kecil, tetapi kemudian berubah jadi penguasa yang menindas. Kebebasan yang dulu diagungkan justru dibunuh oleh tangan yang semula dianggap penyelamat. Negara yang semula mencari keadilan kini jatuh dalam cengkeraman orang orang yang rakus.

Plato melihat jalan turun ini sebagai keniscayaan setelah manusia gagal menjaga jiwa nya. Sebab negara hanyalah cermin dari jiwa warganya. Bila akal dan integritas tak lagi memimpin, semangat berubah jadi ambisi, dan nafsu mengambil alih, maka negara akan turun dari harmoni menuju kekacauan, dari keadilan menuju penindasan.

Ironinya, setiap bentuk negara di jalan turun ini selalu lahir dari janji janji perbaikan. Timokrasi lahir dari keinginan memperkuat negara. Oligarki dari dorongan mengatur kesejahteraan. Demokrasi dari kerinduan akan kebebasan. Tirani dari kerinduan pada keamanan. *Tapi semua itu, tanpa keadilan sebagai fondasi, akan selalu berakhir dengan pengkhianatan.*

Maka saat ini peringatan Plato masih relevan: negara harus dirawat terus-menerus. Keadilan harus diutamakan, suara suara orang bijak harus terus dikumandangkan, agar jalan turun itu bisa diperlambat, bahkan sebisanya dicegah. Sebab begitu negara mulai merosot, jalan turun menuju Tirani bukan lagi kemungkinan, melainkan arah yang hampir tak terelakkan.

*Akhirnya keadilan adalah seni menempatkan. Ia adalah keterampilan politik yang tidak hanya menghitung, tetapi juga mendengar dengan nurani. Ia mengakui bahwa tidak semua orang harus sama, tapi semua orang harus berada di tempat dimana potensi mereka terus tumbuh. Dan setiap orang memainkan peran masing-masing menjadi sejahtera menuju keadilan sosial yang dicita-citakan bersama.*

*#kelasfilsafat*

*#kedalamanintekektual*

*#relevansidenganzamanmodern*

*#referensibuku: Alam Pikiran Yunani karya Mohammad Hatta wapres RI pertama (balai pustaka 1954)*

Baca juga:Proyeksi IHSG Senin 27 Oktober 2025 & Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Berita ini 146 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

NYUNAT ANGGARAN PENDIDIKAN, LANGGAR KONSTITUSI

Artikel

Darah Tinggi Jangan Disepelekan! Ini Makanan Alami Penurun Tensi

Artikel

THOMAS SITEPU SPESIALIS DEMO SORANGAN WAE SEMPAT DIGEBUKIN PASPAMPRES 
Studi Terbaru 2026: Jus Jeruk Ternyata Bisa "Edit" Gen Jantung Jadi Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ahli!

Artikel

Studi Terbaru 2026: Jus Jeruk Ternyata Bisa “Edit” Gen Jantung Jadi Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ahli!
Bukan Hantu! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Mata Kucing Bisa "Menyala" Seperti Laser di Malam Hari. Kenalan dengan Cermin Alami: Tapetum Lucidum!

Artikel

Bukan Hantu! Ini Alasan Ilmiah Kenapa Mata Kucing Bisa “Menyala” Seperti Laser di Malam Hari. Kenalan dengan Cermin Alami: Tapetum Lucidum!

Artikel

Suzuki Access 125 Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Rp 25 Jutaan
Tidur dengan Satu Mata Terbuka? Ini Rahasia Ilmiah Bagaimana Lumba-Lumba Tidur Tanpa Takut Tenggelam!

Artikel

Tidur dengan Satu Mata Terbuka? Ini Rahasia Ilmiah Bagaimana Lumba-Lumba Tidur Tanpa Takut Tenggelam!
Musim durian tiba! Meski enak, hati-hati "mabuk durian". Kandungan kalori dan gas sulfur (C2H6S) di dalamnya bisa bikin gula darah melonjak dan perut kembung.

Artikel

Musim Durian Tiba! Kenapa Buah Ini Baunya Minta Ampun & Bikin “Mabuk”? Kenalan dengan Senyawa Sulfur (C2H6S) & Bahayanya Jika Kalap!