koransakti,co,id-Tepat hari ini, Minggu (8/3/2026), masyarakat di seluruh penjuru dunia merayakan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day. Oleh karena itu, momen ini bukan sekadar perayaan tahunan yang bersifat seremonial, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai sejauh mana dunia telah memberikan ruang bagi kesetaraan dan keadilan bagi perempuan.
Secara khusus, di tahun 2026, tema yang d iangkat menyoroti pentingnya kepemimpinan perempuan dalam mengakselerasi inklusi digital dan keberlanjutan ekonomi global. Meskipun demikian, tantangan mengenai kesenjangan akses dan perlindungan hak-hak perempuan di berbagai belahan dunia masih memerlukan aksi nyata yang lebih kolaboratif dan konsisten.
Hal ini menarik karena perempuan kini tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek utama yang menggerakkan inovasi dan perubahan sosial. Oleh sebab itu, di tingkat lokal seperti di Sungai Penuh dan Kerinci, kita menyaksikan gelombang baru pengusaha perempuan dan pemimpin komunitas yang tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Selain itu, peringatan hari ini menjadi pengingat bahwa pemberdayaan perempuan adalah investasi paling cerdas yang dapat di lakukan oleh sebuah bangsa untuk mencapai kemakmuran jangka panjang.
Hari Perempuan Internasional 2026 mengajak pemerintah dan masyarakat untuk memastikan perlindungan hak perempuan melalui kebijakan yang adil dan inklusif. Dengan demikian, menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan untuk berkarya adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya tugas satu gender saja.
Sebagai informasi, data terbaru menunjukkan bahwa keterlibatan aktif perempuan di sektor formal mampu mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah negara secara signifikan. Akhirnya, perayaan hari ini adalah tentang menghargai setiap tetes keringat perjuangan perempuan masa lalu dan memberikan panggung seluas-luasnya bagi generasi masa depan untuk bersinar lebih terang.
Makna dan Sejarah: Akar Perjuangan Menuju Kesetaraan
Mari kita kembali mengingat sejarah singkat mengapa tanggal 8 Maret menjadi sangat sakral bagi gerakan perempuan dunia:
Hari Perempuan Internasional berakar dari gerakan buruh di Amerika Utara dan Eropa pada awal abad ke-20. Pada tahun 1908, sebanyak 15.000 perempuan melakukan demonstrasi di New York menuntut jam kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih layak, dan hak untuk memberikan suara (hak pilih). Perjuangan ini kemudian di akui secara global dan di tetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1975.
Di tahun 2026, perjuangan tersebut telah berevolusi. Jika dahulu fokusnya adalah hak suara, kini fokusnya meluas ke arah kemandirian finansial melalui teknologi, perlindungan dari kekerasan siber, serta representasi perempuan di posisi pengambil kebijakan strategis (CEO, menteri, hingga pemimpin organisasi dunia).
Profil Perempuan Inspiratif: Penggerak Ekonomi Daerah
Selanjutnya, di wilayah Jambi Barat, khususnya Kerinci dan Sungai Penuh, peran perempuan dalam menjaga ketahanan ekonomi keluarga sangatlah luar biasa:
Pejuang Ekonomi Mikro (UMKM): Banyak perempuan di Kerinci yang mengelola bisnis olahan hasil tani, seperti bubuk kopi dan kerajinan tangan, yang kini mulai menembus pasar digital. Mereka membuktikan bahwa dari rumah sekalipun, perempuan bisa menjadi penopang ekonomi daerah.
Penjaga Budaya: Para penenun dan pembatik motif Incung mayoritas adalah perempuan. Mereka adalah penjaga gawang kelestarian identitas budaya lokal agar tidak lekang di makan zaman.
Sektor Profesional: Di dunia profesional, termasuk perempuan di dunia pers. telah membuktikan bahwa mereka mampu menjadi agen perubahan, pengawal demokrasi, sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berkontribusi untuk bangsa
Membangun Inklusi Digital: Tantangan dan Harapan 2026
Berikutnya, inklusi digital menjadi tema sentral di tahun 2026. Di era di mana kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi mendominasi, perempuan tidak boleh tertinggal di belakang layar:
Literasi Teknologi: Memberikan pelatihan teknis bagi perempuan di pelosok agar mahir menggunakan alat pembayaran digital dan pemasaran daring.
Perlindungan Data: Memastikan ruang siber aman dari pelecehan agar perempuan dapat berekspresi secara bebas tanpa rasa takut.
Akses Permodalan: Mempermudah akses kredit usaha bagi pengusaha perempuan yang seringkali memiliki hambatan pada agunan fisik namun memiliki rekam jejak bisnis yang sehat.
Kesimpulan: Suara Perempuan, Suara Kemajuan
Oleh karena itu, Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2026 harus kita jadikan momentum untuk memperkuat solidaritas. Menghargai perempuan bukan hanya di lakukan hari ini, melainkan setiap hari dalam setiap interaksi dan kebijakan yang kita buat.
Dengan demikian, masa depan yang adil dan setara bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang sedang kita bangun bersama.
Selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh perempuan tangguh, khususnya di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh. Teruslah berkarya, karena dunia membutuhkan kekuatan dan kelembutan Anda. (Emi)
Baca juga : Hari Ibu & HUT DWP, Ini Kata Para Perempuan Inspiratif














