Koransakti.co.id- Pasca di angkat menjadi Rasul, Muhammad segera membangun lembaga pendidikan Islam. Yang pertama tentu di Mekah. Di sana di dirikan dengan nama Darul Arqom.
Nama itu sesuai dengan nama yang punya rumah, Al Arqom bin Abi Arqom. Pemuda belia konon usianya baru 16 tahun merelakan rumahnya di gunakan rasul untuk menjadi sekolah Islam pertama di dunia.
Di pilihnya rumah Al Arqom, kerena rumah itu, berada di tempat sepi dan aman.
Rumah ini berada di bukit Ma’,la, jauh dari pantauan kaum kafir Quraisy yang terus mengintai dan hendak mencelakai rasul.
Pelajaran yang di berikan sangat dasar sekali terbatas pada penanaman akidah, mengakui keberadaan Allah dan kewajiban menyembahnya.
Ada beberapa orang yang masuk Islam di sana. Di antaranya Umar bin Khattab dan anaknya yang baru berusia 10 tahun, Abdullah bin Umar bin Khattab
Umar yang tadinya tidak mendukung Rasul tetapi kemudian berikrar masuk Islam. Dan belakangan malah menjadi sahabat dan termasuk Khulafaur Rasyidin yang meneruskan kepemimpinan Islam pasca rasul wafat.
Mereka, para sadalah, Abdullah bin Umar bin Khattab Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.
Umar itu setelah mengucapkan dua kalimat syahadat bersama putranya, Abdulah ikut hijrah ke Madinah. Waktu masuk Islam Abdulah baru 10 tahun dan merupakan Muhajirin termuda yang ikut hijrah
Di Madinah setelah selesai membangun masjid, nabi mendirikan lembaga pendidikan Islam yang di beri nama As Suffah.
Tempatnya di serambi masjid Nabawi yang pertama sekali luasnya sekitar 1000 meter persegi. Di serambi belakang di dirikan As Suffah sekitar 300 m2
Peserta didiknya adalah para sahabat dan putra putranya. Ada Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Billal bin Rabah Salman Al Farisi dan lain-lain.
Ketika turun perintah kiblat dari Baitul maqdis ke Ka’bah di Mekah sekitar 17 bulan setelah berada di Madinah maka bagian yang tadinya muka menjadi belakang. Rasul memerintahkan bagian belakang itu di buatkan atap dengan luas sekitar 300 meter.
Bagian yang terbuka tiga sisinya itulah yang kemudian di jadikan lembaga pendidikan Islam pertama di Madinah.
Tenpat itu menjadi cikal bakal Kobong yang sekarang di miliki pondok pesantren.
Di pondok atau Kobong itulah siang dan malam tinggal para sahabat yang berniat menuntut ilmu. Mereka adalah kaum Muhajirin yang ikut hijrah bersama, sebelum atau sesudah rosul.
Mereka di terima dengan baik dan bersahabat oleh kaum Anshar yang merupakan penduduk Madinah yang mendukung hijrah.
Umumnya kaum Muhajirin miskin karna niatnya untuk menyelamatkan diri dan Islam dari kedzaliman dan penindasan kaum Quraisy. Jadi tidak memikirkan bekal untuk hidup di Madinah yang berjarak sekitar 400 km.
Meskipun begitu orang yang berpunya pun lebih suka tinggal di Kobong As Suffah itu. Untuk biaya hidup mereka tergantung pada infaq Shodaqoh kaum Anshar.
Nabi sekalipun jika menerima shodaqoh langsung di sumbangkan untuk makan para ahlus Suffah (penghuni Kobong As Suffah).
Di pondok pesantren pertama dan terbuka itu mereka belajar siang malam. Metode pembelajaran sudah meningkat daripada yang di pelajarkan di Darul Arqom Mekah.
Di AS Suffah sudah di pelajari cara cara ibadah termasuk membaca Al Qur’an. Jumlah santri angkatan pertama di perkenalkan sekitar 70 sampai 😯 orang.
Abu hurairah sendiri datang belakangan dari Yaman dengan niat ketemu Rasul dan masuk Islam.
Selanjutnya Abu Hurairah yang nama aslinya Abdulrahman bin Saker ad Dawsi, menjadi sahabat rosul yang paling dekat.
Beliau di kenal sebagai pengumpul riwayat yang menjadi sumber Harits.
Konon beliau berhasil mengumpulkan sekitar 5274 rawi di atas Abdullah bin Umar yang mengumpulkan sekitar 2624 rawi.
Setelah rosul wafat mereka tersebar menjadi penyebar Islam yang militan sehingga menjadi kelompok penganut agama terbesar di dunia.
Konon dari 8,1 milyar jumlah penduduk dunia, tahun 2024-2025 pemeluk Islam adalah 2,2 milyar.
Wallahu alam bishawab.
Baca juga : MERENUNGI 6 ABAD PONDOK PESANTREN















