Home / Artikel

Senin, 12 Januari 2026 - 05:03 WIB

MERENUNGI 6 ABAD PONDOK PESANTREN 

koransakti - Penulis

Oleh: DEDI ASIKIN

Koransakti.co.id- Dunia pesantren adalah wilayah yang selalu menarik untuk di simak dan di kaji baik dalam kelembagaan, perilaku para santri maupun kehidupan para kiyainya.

Banyak orang besar lahir dari pondok pesantren. Ada KH Hasyim Asy’ari, Wahab Hasbullah Yusuf, Hasyim Syaifudin Zuhri sampai Abdurrahman Wahid. Semua itu tentu bukan kebetulan,tapi lahir dari sebuah pengabdian, dari kinerja yang di tampilkan.

Boleh jadi itu sebuah isyarat bahwa pondok pesantren adalah lembaga yang tak boleh di remehkan. Di lirik cuma sebelah mata.

Pada kenyataanya sejarah telah mencatat bahwa pondok pesantren, kiyai dan santri ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah merdeka tetap bekerja untuk tegaknya syi’ar meski dalam serba kesulitan dan kekurangan .

Banyak orang berpendapat bahwa jika Pondok pesantren kiyai dan santri tidak ambil bagian, rada mustahil proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pada hari Jumat bulan Ramadhan tanggal 17 Agustus 1945.

Tak Lebih dan tak kurang yang di lakukan mereka adalah mencari keridhoan Allah. Mereka tetap berjuang. Tidak ada senjata, bambu runcing bahkan ketapel pun jadi. Semata demi keridhoan Allah SWT Jihad fisabilillah, Ruhul jihad.

Perjalanan mereka bukan melenggang kaya di jalan tol. Tapi jalan yang penuh onak dan duri. Banyak belokan ke kiri dan ke kanan. Naik bukit dan menuruni lembah yang curam.

Bukan pula perjalanan sesaat. 6 abad, 600 tahun itu. Tetapi yang melegakan adalah selama 600 tahun itu tidak terjadi perubahan tradisi dan budaya pesantren.

Pondasi utama tentang kelembagaan misalnya, seperti di gambarkan Djamarkasy Dhofier dalam bukunya TRADISI PESANTREN, pilnya masih tetap, tiga, yaitu kiyai, santri dan Pondok atau Kobong.

Pesantren dalam mendukung perjalanan bangsa juga masih konsisten, ikut berjuang untuk kemerdekaan. Setelah merdeka meneruskan penegakan syi’ar Islam dengan mendidik para santri dan masyarakat sekitar untuk tetap konsis pada amar makruf nahi mungkar

Minimal setiap insan tetap menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tetapi sikap negara yang kaku dan belum sesungguhnya menempatkan Lembaga pendidikan Islam itu pada posisi yang selayaknya.

Baca juga :   BUAH KHULDI TAK SEKELAS GEDONG GINCU ALA INDRAMAYU 

Zaman kolonial di benci di musuhi bahkan di bunuh Tentara VOC. Ketika sudah merdeka, ibaratnya di jajah bangsa sendiri. Di curigai dengan stigma sarang teroris.

Belakangan ini, ada kekhawatiran yang melanda sebagian besar kiyai yang mimpin pondok pesantren. Mereka di bayang bayangi rasa takut ada saatnya di tinggal santri atau tidak di minati sebagai tempat untuk pendidikan anak anaknya

Satu hal yang krusial sebabnya adalah lulusan pondok pesantren susah mencari pekerjaan karena ijazahnya tidak di akui seperti pendidikan umum. Bukan mustahil BOS pesantren dan santri kelak akan di cabut.

Baca juga :   Libur Sekolah Sudah Dekat, Ini Rekomendasi Wisata Keluarga yang Seru dan Edukatif

Perasaan itu menimpa pondok pesantren yang bersikukuh mempertahankan sistem salafi, tidak punya pendidikan formal seperti MI, SD, Tsanawiyah, SMP atau Aliyah, SMA. Salah satu yang merasa demikian adalah Pondok pesantren Al Falakiyah di desa Cikoneng kecamatan Wado kabupaten Sumedang.

Tetapi, pemimpin pondok Itu, KH Murtado bertekad tetap akan bertahan dengan salafi murni.

Ada berapa santri, kami akan tetap jalan, tegas Murtado.**

Baca juga: Pojok Sains: Misteri ‘Ketindihan’ (Sleep Paralysis), Benarkah Ulah Makhluk Halus?

REGENERASI PONDOK PESANTREN SEBUAH TANTANGAN 

 

Berita ini 41 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Artikel

Melihat Industri Bunga Tulip di Belanda

Artikel

LUHUT BILANG UANG PEMERINTAH BANYAK, BANYAK DARI HONGKONG ?

Artikel

TAK LULUS SR BISA JADI WAKIL PRESIDEN INI FAKTA BUKAN MITHOS

Artikel

Vietnam Beri Bonus Rp 4 juta Bagi Warga Yang Ingin Punya Anak Lebih Dari 1 Orang

Artikel

5 Zodiak dengan Jalan Termudah Menuju Kekayaan di Tahun 2026

Artikel

Pemimpin Penghianat: Hilangnya Sikap Kenegarawanan

Artikel

Khasiat Pucuk Daun Jambu Biji untuk Kesehatan

Artikel

HAJI SUPRANATURAL KE MEKAH LEWAT LOBANG GOA SEBUAH KAROMAH ?