Pemimpin Penghianat: Hilangnya Sikap Kenegarawanan
Koransakti.co.id- Salah satu ciri pernyataan politik Presiden Prabowo Subianto adalah transparan, apa adanya sehingga mudah di cerna. Itulah yang membuat setiap pernyataan “layak kutip” patut di simak dan jelas ke mana arahnya.
Pernyataan tentang “Pemimpin Penghianat” muncul 12 Juli 2026 pada peringatan Hari Koperasi di Jakarta: “Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di Republik ini adalah pemimpin penghianat.”
Kosakata penghianat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berkonotasi ketidaksetiaan terhadap negara. Lengkapnya sebagai berikut: “Penghianat adalah orang yang khianat, orang tidak setia kepada negara, teman, atau pihak yang telah memberikan kepercayaan kepadanya.”
Dalam konteks kontestasi politik memang tepat apa yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, “Siapa yang menang: monggo, jangan kalau kalah mau bakar-bakar.”
Kontestasi lima tahunan berjalan sesuai peraturan perundang-undangan yang ada dan tidak lama untuk mematut diri dan berlaga lagi. Bila ada kebijakan pemerintah sekarang yang dianggap kurang tepat, tinggal dikritisi, dan ruang untuk itu sangat terbuka.
Tapi bila menganjurkan tindakan provokatif seperti bakar-bakaran, itu offside dan tidak tepat. Karena seorang pemimpin yang amanah seyogianya selalu bersikap bertanggung jawab terhadap kepentingan negara yang lebih besar, keamanan nasional dan kesejahteraan bersama. Bukan hanya mengutamakan kepentingan politik sesaat dan partisan.
Semoga Negara Kita Indonesia tetap jaya dan sejahtera bersama. InsyaAllah.
Penulis: 
Baca juga: Dilema Kepemimpinan Prabowo: Antara Menjaga Kekuasaan dan Menjawab Aspirasi Demokrasi















