Tunda Dulu Umroh sampai Situasi Kondusif: Sekitar 60.000 Jamaah Tertahan di Arab Saudi
Oleh :
Prof. Dr. RIZAL DJALIL MAKMUR (Mantan Ketua BPK RI, Politisi Senior, Analis Kebijakan Keuangan, Pangan dan Health Economic)
Koransakti.co.id- Umroh di bulan suci Ramadhan memang istimewa. Dalam hadis HR. Bukhari dan Muslim di sebutkan,
“Sesungguhnya umroh di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” Bahkan pahala bagi yang dapat melaksanakan umroh di bulan Ramadhan di lipatgandakan.
Kita bisa mengikuti ritual ibadah: berpuasa, berbuka, dan tarawih serta sholat malam (minggu keempat) di Masjidil Haram.
Kita bisa merasakan dan menikmati “atmosfir” di Makkah: di siang hari sepi, jarang ada orang dan kendaraan di jalanan, kecuali segelintir petugas. Toko dan mal tutup. Begitu waktu Asar tiba, denyut kehidupan mulai terasa dan ramai. Hiruk-pikuk berlangsung sampai menjelang Subuh.
Itulah sebabnya jumlah jamaah umroh di bulan Ramadhan terus meningkat.
Pada tahun 2025 jumlah jamaah umroh Ramadhan sekitar 16,5 juta. Sekitar 700.000 orang berasal dari Indonesia, dengan potensi putaran uang ratusan triliun.
Namun saat ini, akibat adanya perang antara Amerika–Israel dengan Iran yang meletus 28 Februari 2026, berimbas terhadap situasi keamanan di negara Teluk dan juga Arab Saudi.
Bandara di tutup, penerbangan di hentikan. Maka perjalanan umroh menjadi terganggu. Tidak kurang dari 60.000 jamaah umroh Indonesia masih tertahan di Arab Saudi.
Dengan adanya kondisi force majeure ini, sebaiknya perjalanan umroh di tunda sampai situasi pulih dan kondusif.
Baca juga: Masa Depan Simeone: Antara Atletico Madrid dan Godaan Arab Saudi















