Oleh :DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Ada beberapa orang bereaksi atas tulisan saya kemarin dengan judul “Mafia dimana mana di kota sampai di desa”.
Mereka kontak saya lewat WhatsApp, telepon dan facebook.
Ada Tosin Permana wartawan aki aki seperi saya :
Dia tanya bagaimana milah milahnya kang,
Mafia, gengster, kartel dan preman?
Saya jawab seenak dengkul saja.
Gak usah di pilah bro, gebud , buntel kadut saja, mereka itu pekerja kriminal. Gitu aja repot.
Andi Bakti, ngaku korban penipuan Investasi Bodong dari Makasar. Dia tanya yang membuat raib uang kami dalam rekening BCA atas nama DNA PRO sebesar Rp.22 trilyun juga mafia ? Tapi mereka kayanya pejabat negara dan bekerja atas nama negara. Kok bisa jadi mafia. Ini pagar makan sayuran namanya.
Katanya tambah dia awalnya rekening DNA PRO itu di blokir oleh aparat hukum atas permintaan Kementerian Perdagangan.
Tapi tiba tiba uang itu raib dalam posisi diblokir.
Sekarang uang kami hilang. Punya saya pribadi Rp.1 milyar.
Gimana nih, sapa tanggung jawab ?
Jujur pertanyaan itu tak bisa saja jawab secara tuntas tas tas.
Saya hanya menyarankan tanya sama menteri keuangan atau OJK.
Kalau perlu , pake pengacara gugat class action. Kalau sudah pasti itu uang di ambil penyelenggara negara.
UU TPPU ( Tindak Pidana Pencucian Uang) memerintahkan uang hasil pencucian itu harus di kembalikan kepada pemilik.
Penanya ke tiga via seorang aktivis Paguyuban Warga Tani Tasik Selatan. Via WA dia bertanya apakah kejahatan itu bisa di berantas di negeri kita ?
Begini, beberapa tahun lalu saya sempat konsultasi masalah kejahatan itu dengan ajengan (ustadz) Mastur. Dia itu kakak sepupu yang mengasuh pondok pesantren keluarga di lembur.
Kata beliau ( sekarang sudah marhum) , kejahatan itu di manapun di muka bumi ini tidak bisa di hilangkan sama sekali, paling bisa di kurangi.
Itu merupakan implementasi dari firman Allah dalam surat ad Dzariyat ayat 49 tentang pasangan kehidupan :
Wamin kulli sya’iin khalaqnaa zaujani la allakum tadzakkaruun.
Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang pasangan agar kamu mengingat (kebesaran) Allah.
Ada siang berpasangan dengan malam. Lelaki/perempuan, jantan/ betina, langit/bumi, bulan/matahari, tinggi/rendah, gelap terang, dll termasuk orang baik dan orang jahat.
Kita bermain logika saja , kata kang Entur , begitu biasa saya panggil, andai kata kejahatan di hilangkan sama sekali, maka kebaikan atau orang baik juga harus di hilangkan. Tak mungkin kan !.
Sekedar di kurangi mungkin bisa. Kan malaikat dan setan terus berperang, adu pengaruh. Malaikat berusaha orang baik lebih banyak dan orang jahat berkurang. Sebaliknya setan berjuang orang jahat lebih banyak, orang baik berkurang. Di alam kasat mata dalam rangka menegakkan amar makruf nahi munkar ajengan ustadz kiyai dan ulama atau guru guru yang mengajar budi pekerti juga berbuat Dua duanya bisa membuat lebih atau kurang, sebatas itu saja.
Dan itu lakukan saja, cuma tak perlu gembar gembor mau basmi sampai ke akar akarnya. Itu kan terkesan arogan dan takabur. Dan itu ( arogan dan takabur) adalah pekerjaan setan.
Kan hidup di dunia cuma main main dan senda gurau belaka.
Itu kata Allah dalam surat al An’am 32 :
Wamal hayaatud dun-yaa illa la ibuw walhw(un) , walad- daarul aakhirotu khairul lil ladziina yattaquu(a) afalaa ta’quluun.
Dan tiadalah kehidupan di dunia ini, selain dari min dan senda gurau belaka . Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang yang taqwa. Maka tidakkah kamu memahami ?.
Atas dasar konsultasi islami saya dengan kakak sepupu itu maka pesan moral saya buat pak Presiden Prabowo dan jawaban kepada penanya:
Do work hard but take it easy and follow Allah decision
Sersan ( serius santai) aja boss.***















