Home / Sains

Selasa, 5 Mei 2026 - 19:35 WIB

Mungkinkah Manusia Membangun Peradaban Permanen di Bulan?

koransakti - Penulis

koransakti.co.id- Melihat Bulan menggantung indah di langit malam sering kali memicu imajinasi: “Bisakah kita pindah ke sana?” Sejak misi Apollo berhasil mendaratkan manusia pertama kali pada 1969, pertanyaan ini terus menghantui para ilmuwan. Meskipun teknologi antariksa berkembang pesat, menetap di Bulan ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mendaratkan kaki.

Berikut adalah tantangan nyata yang harus dihadapi manusia jika ingin menjadikan Bulan sebagai rumah kedua:

1. Luas Wilayah yang Terbatas

Jangan terkecoh oleh cahayanya yang besar saat purnama. Secara fisik, luas permukaan Bulan hanya sekitar 38 juta kilometer persegi. Angka ini bahkan tidak mampu menandingi luas Benua Asia (44,5 juta km²). Jika kita membandingkannya dengan Bumi yang memiliki luas 510 juta kilometer persegi, Bulan hanyalah sebuah pulau kecil di tengah samudera ruang angkasa.

2. Atmosfer yang Terlalu Tipis

Bumi melindungi kita dengan atmosfer tebal yang berfungsi sebagai perisai radiasi dan pengatur suhu. Sebaliknya, Bulan hampir tidak memiliki atmosfer (hanya lapisan eksosfer tipis). Tanpa perlindungan ini, Bulan mengalami perubahan suhu yang mematikan:

  • Siang hari: Suhu melonjak hingga 121°C.

  • Malam hari: Suhu merosot tajam hingga -133°C.

Baca juga :   Pojok Sains: Hari Ini Rasanya Berat Banget Buat Kerja? Ternyata "Menunda Pekerjaan" Bukan Tanda Malas, Tapi Masalah Emosi!

3. Hujan Meteor Tanpa Henti

Tanpa atmosfer yang membakar batuan ruang angkasa, Bulan menjadi sasaran empuk meteoroid. Setiap hari, sekitar 100 meteor seukuran bola pingpong menghantam permukaannya dengan kecepatan hingga 72 km/detik. Sebuah batuan kecil seberat 5 kg saja dapat menciptakan kawah sedalam 9 meter karena tidak adanya hambatan udara. Membangun pemukiman di sana sama saja dengan tinggal di zona perang tanpa perlindungan.

4. Krisis Air dan Oksigen

Manusia tidak bisa sekadar menimba air di Bulan. Meskipun data satelit mengonfirmasi adanya molekul air, bentuknya berupa es yang terkubur dalam tanah atau tersembunyi di kawah kutub yang gelap abadi. Untuk memanfaatkannya, kita perlu teknologi tinggi guna mengekstrak es tersebut menjadi air minum atau memecahnya melalui elektrolisis menjadi oksigen.

Baca juga :   Mengapa Aroma Hujan di Tanah Kering Begitu Khas dan Menenangkan? Ini Jawabannya

5. Tanah yang Beracun

Tanah Bulan (regolit) bukanlah tanah subur seperti di Bumi. Regolit terdiri dari debu tajam menyerupai kaca dan mengandung logam berat yang beracun bagi tanaman dan manusia. Menanam bahan makanan secara berkelanjutan di sana membutuhkan sistem tanah buatan yang sepenuhnya terisolasi.


Kesimpulan: Bisakah Kita Tinggal di Sana?

Secara teknis, manusia bisa bertahan hidup di Bulan dengan bantuan teknologi canggih seperti tabung lava bawah tanah (untuk perlindungan radiasi) dan sistem daur ulang sumber daya yang ekstrem. Namun, menjadikannya tempat tinggal permanen membutuhkan biaya yang luar biasa besar dan risiko nyawa yang sangat tinggi. Untuk saat ini, Bulan tetap menjadi laboratorium penelitian yang hebat, namun belum menjadi rumah yang ramah bagi manusia.***

Baca juga: Menembus Batas Langit: Alasan Sains dan Strategis di Balik Ambisi Manusia Menuju Bulan

Berita ini 8 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Mitos atau Fakta? Mata Kedutan Katanya Mau Dapat Rezeki Nomplok atau Menangis? Ternyata Ini Penjelasan Medisnya (Myokymia)!

Artikel

Mitos atau Fakta? Mata Kedutan Katanya Mau Dapat Rezeki Nomplok atau Menangis? Ternyata Ini Penjelasan Medisnya (Myokymia)!

Fakta Unik

Mengenal Burung Paruh Kodok: Si Penyamar Ulung yang Sering Dikira Burung Hantu
Pojok Sains: Kenapa Suara Kita Terdengar 'Aneh' & Beda Saat Direkam? (Ini Alasannya)

Fakta Unik

Pojok Sains: Kenapa Suara Kita Terdengar ‘Aneh’ & Beda Saat Direkam? (Ini Alasannya)
Tinggal 4 Hari Lagi! Kenapa Sih Valentine Harus Kasih "Coklat"? Ternyata Ini Bukan Tradisi Romantis Kuno, Tapi Ulah Pedagang Pintar!

Artikel

Tinggal 4 Hari Lagi! Kenapa Sih Valentine Harus Kasih “Coklat”? Ternyata Ini Bukan Tradisi Romantis Kuno, Tapi Ulah Pedagang Pintar!
Pojok Sains: Mengenal Tardigrada, "Beruang Air" yang Tidak Bisa Dibunuh (Bahkan oleh Kiamat Sekalipun)

Bilogi

Pojok Sains: Mengenal Tardigrada, “Beruang Air” yang Tidak Bisa Dibunuh (Bahkan oleh Kiamat Sekalipun)
Mengenal HCl (Asam Klorida) di Perut Kita. Asam Keras yang Bisa Lelehkan Logam, Tapi Kenapa Lambung Kita Aman?

Artikel

Mengenal HCl (Asam Klorida) di Perut Kita. Asam Keras yang Bisa Lelehkan Logam, Tapi Kenapa Lambung Kita Aman?
Pojok Sains: Siap-siap Kalap Makan Besok Malam? Jangan Percaya Mitos "Detox Juice"! Tubuhmu Punya Mesin Pembersih Racun yang Lebih Canggih

Bilogi

Pojok Sains: Siap-siap Kalap Makan Besok Malam? Jangan Percaya Mitos “Detox Juice”! Tubuhmu Punya Mesin Pembersih Racun yang Lebih Canggih
Benarkah Madu Tidak Bisa Basi? Makanan Firaun yang Masih Bisa Dimakan Setelah 3.000 Tahun

Fakta Unik

Pojok Sains: Benarkah Madu Tidak Bisa Basi? Makanan Firaun yang Masih Bisa Dimakan Setelah 3.000 Tahun