koransakti.co.id – Jika terjadi bencana nuklir, tabrakan asteroid, atau kiamat iklim di Bumi, manusia mungkin akan punah. Kecoak mungkin bertahan, tapi ada satu makhluk yang dipastikan akan tetap hidup santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Makhluk itu bernama Tardigrada (Tardigrade) atau sering dijuluki Beruang Air (Water Bear).
Ukurannya sangat kecil, hanya sekitar 0,5 mm (seukuran butiran debu), sehingga hanya bisa dilihat jelas dengan mikroskop. Bentuknya lucu, punya 8 kaki gemuk, tubuh gempal, dan cakar kecil. Mereka biasa hidup di lumut basah di halaman rumah Anda.
Namun jangan tertipu penampilannya yang imut. Sains menobatkan Tardigrada sebagai makhluk hidup paling tangguh yang pernah ditemukan di alam semesta. Berikut fakta ilmiah dan mekanisme “keabadian” mereka.
1. Daftar Kekuatan Super (The Invincible)
Para ilmuwan telah menyiksa hewan malang ini dengan berbagai kondisi ekstrem untuk menguji batasnya, dan hasilnya mencengangkan:
Suhu Ekstrem: Mereka bisa hidup di suhu dingin mutlak -272°C (hampir Absolute Zero) hingga suhu panas mendidih 150°C.
Tekanan Dahsyat: Mereka bertahan di tekanan Palung Mariana (dasar laut terdalam) yang tekanannya 6 kali lipat lebih kuat dari tekanan yang bisa meremukkan manusia.
Radiasi: Mereka tahan terhadap radiasi 1.000 kali lebih kuat daripada dosis yang bisa membunuh gajah.
Ruang Hampa: Pada tahun 2007, satelit FOTON-M3 membawa Tardigrada ke luar angkasa. Mereka dibiarkan di ruang hampa udara (vacuum) tanpa oksigen selama 10 hari. Saat kembali ke Bumi dan diberi air, mereka hidup lagi!
2. Rahasia Ilmiah: Kriptobiosis (Mode Mati Suri)
Bagaimana mungkin makhluk organik bisa selamat dari penyiksaan fisik seberat itu? Jawabannya adalah kemampuan biologis langka yang disebut Kriptobiosis (Cryptobiosis).
Saat kondisi lingkungan memburuk (misalnya kekeringan total), Tardigrada tidak lari. Mereka melakukan transformasi tubuh yang radikal:
Mengkerut: Mereka menekuk kaki dan kepalanya ke dalam tubuh, membentuk bola kecil kering yang disebut “Tun”.
Membuang Air: Mereka mengeluarkan 97% air dari tubuhnya. Ingat, air adalah media yang bisa membeku (menjadi kristal es tajam) atau mendidih. Dengan membuang air, mereka menghilangkan risiko tersebut.
Gula Ajaib (Trehalose): Ini kuncinya! Saat air keluar, tubuh mereka memproduksi gula khusus bernama Trehalose. Gula ini menggantikan cairan sel dan mengeras seperti kaca (Vitrification).
Dalam fase “Tun” ini, metabolisme Tardigrada turun hingga 0,01% dari normal. Mereka secara teknis “mati suri”. Mereka bisa diam dalam kondisi jadi patung kaca ini selama 30 tahun.
Begitu terkena setetes air, gula Trehalose larut, sel kembali mengembang, dan dalam beberapa menit mereka “hidup kembali” berjalan-jalan mencari makan seolah baru bangun tidur siang.
3. Protein Pelindung DNA (Dsup)
Salah satu alasan kenapa radiasi nuklir mematikan adalah karena radiasi menghancurkan rantai DNA kita.
Tardigrada memiliki protein spesial yang tidak dimiliki hewan lain, yang diberi nama Dsup (Damage Suppressor). Protein ini membungkus DNA mereka seperti selimut timah, melindunginya dari gempuran radiasi dan radikal bebas.
Ilmuwan Jepang bahkan sedang meneliti cara menyuntikkan protein Dsup ini ke sel manusia, dengan harapan suatu hari nanti manusia bisa lebih tahan terhadap radiasi (sangat berguna untuk astronaut yang akan pergi ke Mars).
4. Insiden di Bulan
Pada tahun 2019, pesawat antariksa Beresheet milik Israel jatuh dan hancur di permukaan Bulan. Pesawat itu membawa muatan ribuan Tardigrada dalam fase Tun. Secara teori, ribuan Tardigrada tersebut saat ini masih ada di Bulan, tersebar di antara puing-puing pesawat. Mereka tidak mati, hanya sedang “tidur” menunggu air.
Jika di masa depan ada astronaut yang menyiramkan air ke lokasi jatuhnya pesawat itu, kemungkinan besar “Beruang Air” tersebut akan bangun dan menjadi penghuni Bulan pertama yang selamat dari kecelakaan antariksa.
Kesimpulan: Tardigrada mengajarkan kita bahwa kekuatan bukan selalu soal ukuran atau otot yang besar. Kekuatan sejati adalah kemampuan untuk beradaptasi. Di saat Dinosaurus yang raksasa punah karena asteroid, si kecil Beruang Air justru menjadi saksi bisu sejarah bumi selama 500 juta tahun.
Baca juga:
- Pojok Sains: Membedah “Pembangkit Listrik” di Kepala Kita, Bagaimana Otak Menghasilkan Energi Setara Lampu LED?
- Pojok Sains: Kenapa Burung yang Bertengger di Kabel Listrik Tegangan Tinggi Tidak Kesetrum?
- Pojok Sains: Benarkah Madu Tidak Bisa Basi? Makanan Firaun yang Masih Bisa Dimakan Setelah 3.000 Tahun















