Home / Fakta Unik / Pendidikan / Sains

Sabtu, 20 Desember 2025 - 11:52 WIB

Pojok Sains: Hutan Ternyata Punya “Internet” Bawah Tanah! Mengungkap Cara Pohon Berbicara dan Saling Menolong

koransakti - Penulis

Bukan sekadar akar, ini adalah

Bukan sekadar akar, ini adalah "kabel internet" alami yang menghubungkan seluruh hutan menjadi satu komunitas sosial. (Foto: Freepik/Koransakti)

koransakti.co.id – Saat Anda berjalan-jalan di hutan pada akhir pekan, suasana mungkin terasa tenang dan sunyi. Pohon-pohon berdiri tegak, diam, dan tampak hidup sendiri-sendiri, bersaing memperebutkan sinar matahari.

Namun, sains modern telah membongkar rahasia besar: Hutan itu tidak sunyi.

Di bawah tanah, tepat di bawah pijakan kaki Anda, sedang terjadi percakapan yang sangat sibuk. Pohon-pohon saling bertukar pesan, berdagang makanan, bahkan merawat anak-anak mereka. Fenomena ini difasilitasi oleh jaringan jamur bawah tanah yang oleh para ilmuwan dijuluki “The Wood Wide Web” (Plesetan dari World Wide Web / Internet).

Berikut adalah fakta ilmiah mendalam tentang sistem sosial pepohonan yang menakjubkan ini.

1. Sang “Provider Internet”: Jamur Mikoriza

Jika manusia punya kabel fiber optic untuk internet, hutan punya Mikoriza (Mycorrhiza).

Mikoriza adalah jenis jamur simbiotik yang hidup menempel pada akar tanaman. Jamur ini memiliki benang-benang putih super halus yang disebut hifa. Benang-benang ini menjalar sangat jauh, menghubungkan akar satu pohon dengan akar pohon lainnya, bahkan yang berbeda spesies sekalipun.

Dalam satu sendok teh tanah hutan yang sehat, bisa terdapat benang jamur sepanjang beberapa kilometer. Jaringan inilah yang menjadi “kabel” penghubung seluruh komunitas hutan.

2. Transaksi Bisnis Bawah Tanah

Hubungan antara Pohon dan Jamur bukanlah gratisan, melainkan Bisnis Saling Menguntungkan (Simbiosis Mutualisme).

  • Pohon Memberi Gula: Jamur tidak bisa berfotosintesis (tidak punya klorofil). Jadi, pohon menyisihkan sebagian hasil fotosintesisnya (gula/karbon) dan mengirimnya ke akar untuk dimakan oleh jamur. Sekitar 30% gula yang dibuat pohon diberikan ke jamur.

  • Jamur Memberi Nutrisi: Sebagai gantinya, benang jamur yang halus bisa menembus celah tanah mikroskopis yang tidak bisa dijangkau akar pohon. Jamur menambang mineral (seperti Fosfor dan Nitrogen) serta air, lalu mengirimnya masuk ke tubuh pohon.

Baca juga :   Membedah "Micin" (MSG), Benarkah Senyawa C5H8NO4Na Ini Bikin Otak Lemot? (Cek Faktanya!)

3. Pohon Induk (Mother Tree) Mengasuh Anak

Profesor Suzanne Simard, seorang ahli ekologi hutan dari University of British Columbia, menemukan fakta yang menyentuh hati.

Pohon-pohon tua yang besar (disebut Pohon Induk) ternyata menggunakan jaringan jamur ini untuk mengenali dan merawat anak-anaknya (bibit pohon kecil yang tumbuh di bawahnya).

Karena tertutup tajuk pohon besar, bibit kecil di lantai hutan seringkali kekurangan sinar matahari untuk fotosintesis. Agar anaknya tidak mati, Pohon Induk akan memompa larutan gula cair melalui jaringan jamur ke akar si bibit kecil. Ini ibarat seorang ibu yang menyusui bayinya. Berkat transfer makanan ini, bibit kecil bisa tetap hidup bertahun-tahun menunggu giliran tumbuh besar.

4. Sinyal Bahaya: “Ada Musuh!”

Jaringan Wood Wide Web juga berfungsi sebagai sistem alarm keamanan.

Bayangkan sebuah pohon sedang diserang oleh hama ulat atau kutu daun. Pohon tersebut akan segera mengirimkan sinyal kimiawi tanda bahaya melalui akarnya ke jaringan jamur. Pohon-pohon tetangga yang menerima sinyal ini akan bersiaga. Mereka secara otomatis mulai memproduksi zat kimia beracun atau zat pahit di daun mereka sebelum hama ulat itu sampai ke tempat mereka.

Baca juga :   Pojok Sains: Abis Begadang Tahun Baru, Kok Bawaannya Pengen Makan Mie Instan & Gorengan? Kenalan Sama "Hormon Lapar" yang Lagi Ngamuk!

Berkat “pesan WhatsApp” dari pohon korban, pohon-pohon lain bisa selamat dari serangan wabah.

5. Sisi Gelap: Peretas Hutan

Layaknya internet manusia, Wood Wide Web juga punya sisi gelap: Peretasan dan Pencurian.

Ada tanaman tertentu, seperti Anggrek Hantu (Phantom Orchid) atau tanaman Monotropa, yang tidak punya klorofil sama sekali. Mereka tidak bisa membuat makanan sendiri. Lantas bagaimana mereka hidup? Mereka meretas jaringan jamur. Mereka menancapkan akarnya ke jaringan mikoriza, lalu mencuri gula dan nutrisi yang sedang dikirimkan antar pohon lain.

Tanaman “hacker” ini hidup subur dengan menyedot sumber daya hutan tanpa memberikan imbalan apa pun.

Kesimpulan: Hutan bukanlah kumpulan individu yang egois. Hutan adalah sebuah Super-Organisme raksasa yang saling terhubung, bekerja sama, dan berkomunikasi. Penemuan Wood Wide Web mengajarkan kita bahwa di alam semesta ini, kolaborasi adalah kunci utama untuk bertahan hidup.

Baca juga:

  1. Pojok Sains: Mengenal Tardigrada, “Beruang Air” yang Tidak Bisa Dibunuh (Bahkan oleh Kiamat Sekalipun)
  2. Pojok Sains: Membedah “Pembangkit Listrik” di Kepala Kita, Bagaimana Otak Menghasilkan Energi Setara Lampu LED?
  3. Pojok Sains: Kenapa Burung yang Bertengger di Kabel Listrik Tegangan Tinggi Tidak Kesetrum?
Berita ini 50 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Internasional

WHO Siapkan Update Vaksin COVID-19, Minta Data Terkait Varian Baru LP.8.1

Advetorial

SMA Negeri 2 Kerinci, Sekolah dengan Prestasi Gemilang dan Pendidikan Karakter

Internasional

Kisah Epidemiolog Filipina dan Kursus Gratis WHO yang Mengubah Wajah Kesehatan Mental

Advetorial

Wisuda STIA Nusa, Eliyusnadi: Selamat Kepada Wisudawan/ti  

Fakta Unik

Pink Moon April 2026 Hiasi Langit Indonesia, Catat Jadwal dan Cara Menyaksikannya

Jambi

“Luar Biasa! SMPN 18 Kerinci Sukses Buktikan Sekolah Pinggiran Mampu Taklukkan Kompetisi Nasional”

Daerah

KI Babel Lepas Mahasiswa Magang FH Pertiba: Sinergi Akademik dan Keterbukaan Informasi
Kenapa Cokelat Enak Buat Manusia, Tapi Racun Mematikan Buat Anjing & Kucing? Kenalan dengan Theobromine (C7H8N4O2)!

Artikel

Kenapa Cokelat Enak Buat Manusia, Tapi Racun Mematikan Buat Anjing & Kucing? Kenalan dengan Theobromine (C7H8N4O2)!