Menulis Berawal dari Kebiasaan Membaca
Koransakti.co.id- Saya ini memang senang menulis, Bagi saya, kebiasaan membaca adalah instrumen utama untuk menulis. Orang perlu mengetahui banyak hal sebagai referensi tulisan.
Saya mulai menulis sejak SMP kelas dua di SMP II Tasikmalaya. Saat itu, Saya masuk perkumpulan Ikatan Kunrum Mekar, sebuah ruang sastra dan budaya bagi anak muda di harian Pikiran Rakyat Bandung.
Ruang itu di asuh redaktur PR, Yunus Winoto dan teh Ami Raksanagara, putri bapak Adur Raksanagara yang waktu itu menjabat Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Selain itu, di Tasikmalaya saya juga aktif dalam Ikumtas (Ikatan Kuntum Mekar Tasikmalaya).
Pengalaman Sastra dan Dunia Kreatif
Dalam perjalanan menulis, saya pernah memenangkan lomba cerpen yang di selenggarakan majalah berbahasa Sunda, Mangle tahun 1958.
Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang kemudian memperkaya cara pandang saya terhadap sastra dan bahasa.
Memahami Stakato dalam Musik dan Sastra
Dalam sastra dan musik dikenal istilah Stakato atau staccato.
Dalam musik, Staccato yaitu ketukan ketukan pendek dan cepat pada piano, gitar atau biola. Temperamennya cepat seperti irama mars, tuk …tuk …tuk.
Sementara itu, dalam sastra, Stakato di kenal sebagai pembuatan Kalimat pendek. Maksudnya sederhana dengan kalimat pendek, tulisan menjadi lebih mudah di baca dan di pahami.
Tentang gaya stakato dalam tulisan atau berita, saya mendapat pembelajaran ketika mengikuti KLW (Karya Latihan Wartawan) selama sebulan di wisma Dirga Niaga, Cipayung, Kabupaten Bogor, tahun 1976.
Belajar dari Gaya Mahbub Djunaidi
Dalam dunia menulis, sebenarnya saya mengidolakan sekaligus ingin belajar dari gaya Bang Mahbub Djunaidi.
Walaupun gaya menulis “si burung parkit di kandang macan” itu kadang mengabaikan gaya stakato, tulisannya tetap enak di baca dan mudah di pahami.
Enaknya, bagi saya, seperti menikmati galendo Ciamis, tauco Cianjur, atau ulen Sukaraja.
Namun demikian, saya tidak pernah bisa meniru gaya tokoh NU yang kultural sekaligus struktural itu.
Mitos, Istilah, dan Guyonan Sunda
Di tatar Sunda ada mitos “Mun ngelmu teu kataekan” katanya orang seperti itu suka ada kelainan. Sekarang muncul pula istilah ODGJ (Orang Diduga Gangguan Jiwa)
Ih…amit-amit jabang tutuka. ***
Baca juga: Mengenang Donny Fattah: Pilar Kokoh dan Pencipta Roh Musik Rock God Bless















