koransakti.co.id- Dunia musik rock Indonesia kembali berduka sedalam-dalamnya. Oleh karena itu, kepergian musisi legendaris Donny Fattah Gagola pada Sabtu (7/3/2026) menjadi kehilangan yang sangat besar bagi industri kreatif Tanah Air.
Pendiri sekaligus bassist grup band God Bless ini mengembuskan napas terakhir di usia 76 tahun di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Meskipun demikian, warisan karya-karyanya yang abadi seperti “Semut Hitam” dan “Huma di Atas Bukit” akan terus bergema dan menjadi inspirasi bagi lintas generasi musisi di masa depan.
Hal ini menarik karena Donny Fattah bukan sekadar pemain bass biasa; ia adalah arsitek di balik lirik-lirik tajam dan komposisi musik yang menjadi identitas God Bless sejak tahun 1973. Oleh sebab itu, dedikasinya yang tak tergoyahkan membuat posisinya hampir tidak pernah tergantikan meskipun band tersebut telah mengalami bongkar pasang personel lebih dari 15 kali.
Selain itu, perjuangannya melawan berbagai penyakit serius seperti sarkopenia dan gangguan jantung dalam beberapa tahun terakhir membuktikan ketangguhan mentalnya sebagai seorang seniman sejati. Oleh karena itu, publik musik nasional sepakat bahwa Donny Fattah adalah salah satu fondasi terkuat yang menjaga bendera God Bless tetap berkibar selama 50 tahun lebih. Dengan demikian, kepergiannya bukan hanya akhir dari sebuah perjalanan fisik, melainkan awal dari keabadian karya yang ia titipkan pada sejarah musik Indonesia.
Sebagai informasi, pria kelahiran Makassar berdarah Maluku Utara ini telah memulai kiprahnya sejak era 1960-an sebelum akhirnya membentuk raksasa rock nusantara bersama Achmad Albar dan Fuad Hassan. Akhirnya, selamat jalan Jidon Patta Onda Gagola, petikan bass dan syairmu akan selalu menjadi ruh bagi panggung rock Indonesia.
Perjalanan Awal dan Lahirnya Raksasa God Bless
Langkah awal Donny Fattah hingga berhasil membangun dinasti musik rock yang melegenda:
Donny Fattah memulai petualangan musikalnya secara otodidak sejak usia belasan tahun. Sebelum dikenal luas bersama God Bless, ia sempat membentuk grup Harbour Beat pada tahun 1965 bersama Bartje Van Houten. Titik balik kariernya terjadi pada tahun 1972 ketika Fuad Hassan dan Achmad Albar mengajaknya membentuk Crazy Wheels, yang kemudian resmi berganti nama menjadi God Bless pada 5 Mei 1973.
Sebagai pilar utama, Donny konsisten mengawal perkembangan band ini dari album debut God Bless (1975) hingga proyek terbaru mereka. Meskipun sempat menepi sejenak pada awal 1980-an untuk bekerja di KBRI Houston, Texas, kerinduannya pada musik membawanya kembali ke Indonesia pada 1983 untuk membangkitkan kembali kejayaan God Bless.
Karya Abadi dan Eksplorasi Musikal
Kontribusi terbesar Donny Fattah terletak pada kemampuannya meramu lirik dan melodi yang puitis namun tetap gahar:
Hits Melegenda: Ia adalah otak di balik lagu-lagu “wajib” rock Indonesia seperti Semut Hitam, Setan Tertawa, Musisi, She Passed Away, hingga Anak Adam.
Proyek Lintas Grup: Selain God Bless, jari-jari dinginnya juga turut mewarnai kesuksesan supergrup Gong 2000 dan Kantata Takwa. Ia terlibat aktif dalam album monumental seperti Bara Timur dan Laskar.
Donny Fattah Project: Sebagai bentuk ekspresi pribadinya, ia merilis album solo bertajuk Hitam Putih pada tahun 2016 yang membuktikan kreativitasnya tidak pernah padam oleh usia.
Perjuangan Melawan Penyakit dan Warisan Akhir
Tahun-tahun terakhir kehidupan Donny Fattah menjadi saksi bisu perjuangan fisiknya yang luar biasa menghadapi berbagai komplikasi kesehatan:
Penyakit jantung yang ia alami sejak 2012 akibat kecanduan rokok selama puluhan tahun tidak mematikan semangatnya untuk terus bermusik. Meskipun kondisi fisiknya menurun akibat sarkopenia, penyumbatan vaskular, dan autoimun, ia tetap berusaha hadir dalam momen-momen penting God Bless.
Semangat ini terekam dengan jelas dalam buku biografinya “Donny Fattah – 40 Tahun Dalam God Bless, Bersama God Bless, Untuk God Bless”.
Kepergiannya menyisakan duka bagi rekan-rekan musisi seperti Nicky Astria dan Ikang Fawzi yang sering berkolaborasi dengannya. Donny Fattah telah membuktikan bahwa dedikasi total pada profesi adalah kunci untuk menjadi seorang legenda.
Kesimpulan: Istirahatlah dalam Damai, Sang Musisi
Oleh karena itu, Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaik di bidang seni musik yang memiliki integritas tinggi. Donny Fattah telah menyelesaikan tugasnya di panggung dunia dengan gemilang, meninggalkan ribuan kenangan bagi para penggemar rock.
Dengan demikian, mari kita terus apresiasi setiap karya yang ia tinggalkan sebagai cara terbaik untuk menghargai jasa-jasanya. Selamat jalan, Om Donny, petikan bassmu akan selalu kami rindukan.
Baca juga : Momen Viral Davina Karamoy dan Ardhito Pramono: Berawal dari Unggahan TikTok



Karya Abadi dan Eksplorasi Musikal











