Oleh :DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Ada enaknya hidup muda jaman dulu biar sengsara. Ketika aki aki pisan sekarang sering sakit, keluar masuk rumah sakit. Setelah pulang harus bulak balik kontrol ke dokter. Jalan terpincang-pincang, kaki kiri dan lengan kiri komper, susah digerakin. Banyak orang bilang hati hati pak. Di Tasik rada enak kedengarannya, hati hati pak haji. Tasik itu selain kota santri juga layak dijuluki kota haji, kali.
Kunaon nyalira atuh haji. Padahal saya, setelah operasi angkat kantung empedu (2010) sudah 16 kali keluar masuk rumah sakit. Pertama lambung pasti. Terus ada gula darah berada diatas ambang batas aman ( blood Threshold) Belakangan suruh di USG, nongol kelenjar prostat. Sudah besar katanya (4,9). Suruh disodet. Tapi hati tak berani berani. Lagian ada keponakan abis dioperasi prostatnya meladang. Dia sendiri kesana kemari harus menggendong kantung plastik berisi air mancur ( eh air kencing) .
Saya coba coba dengan obat. Duapuluh tahun kemudian ketika masuk rumah sakit, di USG lagi, ternyata nengecil (3,9). Jadi urolog tidak merekomendasikan operasi. Dia hanya minta kotrol padanya, 2 kali se bulan, selama 6 bulan. Nanti USG lagi. Hasil USG menentukan TL (Tindak lanjut), operasi atau tidak. Ih amit amit jabang Tutuka. Dag dig dug berkepanjangan.
Enaknya waktu muda dahulu sekolah tak perlu tinggi tinggi. Tak perlu S2, S3 apalagi guru besar. Sarjana muda cukup. Saya dulu dengan Ijazah SMP, masuk sekolah dinas. Ikatan dinas 11 tahun. Dapat tunjangan, waktu itu Ro 450 . Keluar, diangkat PNS golongan I. Ikut pendidikan lagi 2 tahun. Lulus naik golongan II. Ikut lagi pendidikan (akademi Postel).
Lulus dengan GELAR BCAP (Bachelor of Postal Administration)
Waktu itu Kepala kantor cukup BCAP. Bahkan Direktur dan Direktur utama juga BCAP. Direktur utama PN Pos dan Giro yang pertama Kali adalah Rd.Ardiwinata. BCAP (1968-1971) Tahun itu terjadi pergantian status dari Jawatan jadi Perusahaan negara.
Saya tahun 1993 ambil pensiun cepat. Waktu itu ditawari jadi kepala kantor Pos di Biak Irian Barat .
Kota kecil namun hutannya luas Penduduknya orang sana. Ada manusia, tapi itunya dibalut ( maaf) koteka.
Wah males lebih baik caw aja. Lagian waktu itu sudah senang jadi wartawan. Gengsi wartawan waktu itu masih lumayan tinggi. Bisa sahabatan dengan pak jaksa, pak hakim atau pak Kapolres.
Beres, makanya lebih baik ambil pensiun saja. Bagian kepegawaian menjanjikan bisa kepala masa kerja sudah 27 tahun .
Sesudah pensiun makin kelelep di dunia cari dan tulis berita. Pertama pernah jadi ketua Korp Wartawan Daerah (Kowarda). Jadi ketua PWI wilayah. Pernah jadi wakil ketua Yayasan Kesejahteraan Wartawan ( Yakeswari) Jawa Barat dan Sekretaris SPS ( Serikat Penerbit Surat Kabar) Jawa Barat. Ditubuh pemerintahan pernah jadi ketua RT dan RW. Mau apa lagi ?.**















