Home / Bahasa

Kamis, 30 Oktober 2025 - 18:24 WIB

Bahasa Daerah Kian Terpinggirkan: Ketika Bahasa Ibu Tak Lagi Hidup di Rumah Sendiri

koransakti - Penulis

Ilustrasi gambar (sumber:tirto.id/Fuad)

Ilustrasi gambar (sumber:tirto.id/Fuad)

koransakti.co.id- Penurunan penggunaan bahasa daerah di Indonesia makin mengkhawatirkan, terutama di kalangan generasi muda. Kurangnya kebiasaan sejak kecil dan minimnya dukungan lingkungan menjadi penyebab utama.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan budaya luar biasa, termasuk dalam hal bahasa. Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, terdapat 718 bahasa daerah di Tanah Air, dengan wilayah timur menyumbang jumlah terbanyak. Namun, tidak semuanya masih lestari.

Kajian vitalitas 87 bahasa daerah pada 2024 menunjukkan, 3 bahasa mengalami kemunduran, 29 terancam punah, 8 berstatus kritis, dan 5 telah punah. Bahasa yang punah berarti tak lagi memiliki penutur, sedangkan yang kritis hanya digunakan oleh masyarakat berusia di atas 40 tahun. Sementara itu, bahasa yang terancam punah umumnya masih dituturkan oleh generasi tua, namun tak lagi diwariskan ke anak-anak.

Hanya 18 bahasa daerah yang masih tergolong aman karena digunakan lintas generasi, sedangkan 31 lainnya masuk kategori rentan. Kondisi ini mencerminkan ancaman nyata terhadap keberagaman bahasa nasional.

Fenomena serupa juga terjadi di dunia. UNESCO mencatat sekitar 40% dari 7.000 bahasa di dunia terancam punah, dengan rata-rata satu bahasa hilang setiap dua minggu.

Penutur Muda Kian Menyusut

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan penurunan drastis penggunaan bahasa daerah antar generasi. Sekitar 85,24% generasi Pre Boomer (lahir sebelum 1945) masih aktif menggunakan bahasa daerah, sedangkan generasi Alfa (lahir 2013 ke atas) tinggal 61,7%. Pola serupa juga terlihat dalam penggunaan bahasa daerah di lingkungan keluarga.

Baca juga :   Apa Arti Kata Cegil? Bahasa Gaul yang Sedang Viral di TikTok

Peneliti Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad, Riki Nawawi, menyebut lunturnya bahasa daerah di kalangan muda disebabkan oleh lemahnya peran keluarga dan institusi pendidikan. “Banyak orang tua dan guru yang tidak memahami pentingnya bahasa daerah bagi identitas budaya dan spiritual bangsa,” ujar Riki.

Ia menilai minimnya tenaga pengajar bahasa daerah, kurangnya kreativitas guru, serta lemahnya teladan dari figur publik lokal turut memperparah situasi.

Secara geografis, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan penggunaan bahasa daerah tertinggi di lingkungan keluarga, mencapai 96,25%. Sebaliknya, DKI Jakarta mencatat angka terendah, hanya 4,22%.

Tidak Terbiasa Sejak Kecil Jadi Akar Masalah

Kisah nyata datang dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut penulis sekaligus pengajar bahasa, Ilda Karwayu, pergeseran dari Bahasa Sasak ke Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu mulai terjadi sejak awal 2010-an. “Anak-anak kini belajar Bahasa Sasak hanya dari orang tua atau tetua. Banyak yang tidak lagi menganggapnya penting,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan berbahasa sejak kecil menjadi kunci. Hasil survei Tirto dan Jakpat terhadap 1.250 responden usia 16–45 tahun menunjukkan 53,85% responden tidak tertarik menggunakan bahasa daerah karena tidak terbiasa sejak kecil.

Baca juga :   Kenapa Orang Suka Bilang “Healing”? Ini Arti Aslinya yang Sering Salah Kaprah

Faktor lain yang disebutkan antara lain karena lingkungan tidak mendukung (28,85%), takut salah ucap atau tidak percaya diri (15,38%), dan malu dianggap kuno (3,85%). Meski begitu, 83,92% responden masih aktif menggunakan bahasa daerah, terutama di rumah, komunitas, dan lingkungan tetangga.

Sebanyak 87,73% responden mengaku rumah menjadi tempat paling nyaman menggunakan bahasa daerah, diikuti tempat umum (41,90%) dan media sosial (25,79%).

Masih Ada Harapan untuk Bangkit

Meskipun pengguna aktif menurun, minat masyarakat untuk mempelajari bahasa daerah justru tinggi. Sebanyak 95,76% responden menyatakan tertarik atau sangat tertarik mendalaminya, baik bahasa asal maupun bahasa daerah lain.

Menurut Riki Nawawi, upaya pelestarian bisa dimulai dari penggunaan bahasa daerah dalam keluarga dan pembelajaran formal di sekolah. Ia juga mendorong lomba bahasa daerah, kampanye media sosial, hingga kolaborasi dengan influencer agar bahasa daerah kembali populer.

Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad sendiri telah meluncurkan aplikasi SundaDigi, platform digital untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan literatur Sunda. Selain itu, mereka tengah mengembangkan aplikasi Lopian dan Gapura untuk mendukung literasi budaya Nusantara.

“Melestarikan bahasa daerah bukan sekadar menjaga kata-kata, tapi juga menjaga jati diri bangsa,” tegas Riki.

Baca juga:

ITU MAH DRAMA, KANG  – Koran Sakti

 

Berita ini 34 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Bahasa

Kenapa Orang Suka Bilang “Healing”? Ini Arti Aslinya yang Sering Salah Kaprah

Bahasa

Dandim 0417/Kerinci Terima Audiensi Pengurus Adat Melayu Kerinci – Jambi

Bahasa

Apa Arti Kata Cringe? Bahasa Gaul yang Populer di Media Sosial

Bahasa

Apa Arti Kata Cegil? Bahasa Gaul yang Sedang Viral di TikTok

Bahasa

Arti Kata Slay: Istilah Viral yang Dipakai di Media Sosial