Oleh :DEDI ASIKIN
Koran Sakti.co.id- Perang Bubat memiliki nilai sejarah yang tinggi atau historical value atau historical signifikance. Banyak sejarawan menelusuri, mengupas dan menyajikan informasi seputar perang antara kerajaan Galuh dengan Majapahit itu.
Sejumlah sejarawan berpendapat perang itu merupakan penegakan martabat bagi masyarakat Jawa Barat khususnya kerajaan Galuh yang berpusat di Kawali Ciamis.
Ceritanya dimulai ketika raja Hayam Wuruk jatuh cinta kepada Raden Ayu Diah Pitaloka Citraresmi, putri pertama raja Galuh sang Maharaja Linggwastu. Menariknya raja Majapahit generasi ke tiga itu jatuh cinta gara gara melihat lukisan Raden Ayu Diah Pitaloka Citra Resmi dipinggir jalan kita Trowulan ibu kota kerajaan Majapahit.
Memang putri sunda itu cantiknya kabina bina.
Raja Hayam Wuruk itu naik tahta tahun 1350, menggantikan ibunya ratu Majapahit ke dua Tribuana Tunggadewi , putri pertama pendiri kerajaan Majapahit Raden Wijaya.
Pada tahun 1334 ratu Tungga Dewi mengangkat Gajah sebagai Mahapatih (setingkat Perdana Menteri). Jadi ketika Hayam Wuruk naik tahta, Gajah Mada sudah menjabat sebagai Mahapatih dan terus mendampinginya .
Nah kerena cinta mati sama lukisan Raden Ayu Diah Pitaloka, utusanpun dikirim ke Kawali Ciamis yang saat itu jadi ibukota kerajaan Galuh.
Gayung pun bersambut.
Lamaran raja muda (naik tahta pada usia 16 tahun) diterima dengan baik oleh raja Galuh sang Maharaja Linggwastu.
Mana mungkin menolak wong yang melamar raja muda penguasa negara terbesar di Nusantara.
Menariknya lagi sang Maharaja Linggwastu sampai rela melanggar budaya dan pakem masyarakat tatar Sunda. Ia bersetuju akad nikah dilaksanakan ditempat mempelai pria di Majapahit.
Sang Maharaja Linggwastu, mengabaikan peringatan dan nasihat dari kaula dan penasihat kerajaan tentang pelanggaran pakem adat Sunda itu.
Alhasil pada awal tahun 1357 , rombongan pengantin putri berangkat dari Astana Gede Kawali, menuju Trowulan ibu kota kerajaan Majapahit.
Konon katanya ada 24 kapal layar yang bertolak dari Cirebon menyusur pantai Utara laut Jawa.
Sesampai di Trowulan rombongan ditempatkan di pelabuhan Bubat yang terletak di utara kota Triwulan.
Bubat adalah pelabuhan di muara sungai yang ramai kerena menjadi pusat perdagangan kerajaan Majapahit.
Tetapi yang terjadi kemudian adalah akal bulus Patih Gajah Mada. Acara pernikahan itu digunakan kesempatan menguasai tanah Pasundan (Jawa Barat) yang merupakan satu-satunya wilayah yang belum dikuasai Majapahit.
Sang Mahapatih itu mengumbar wacana bahwa kedatangan rombongan kerajaan Galuh itu merupakan penyerahan kedaulatan dan tunduk menjadi bagian atau jajahan Majapahit.
Tentu saja isu itu menghentak nurani Maharaja Linggwastu. Harga diri dan martabat kerajaan Galuh telah diinjak injak. Tulang dadanya merasa ditonjok dari belakang.
Meski merasa tidak seimbang, setelah bersepakat dengan para pembantu dan ponggawa kerajaan tak ada cara lain kecuali mengibarkan bendera perang.
Bagi Gajah Mada, ini kesempatan yang sangat menguntungkan.
Pasukan tentaranya memang sudah terlatih dan siap perang setiap saat, kapanpun perintah datang.
Sementara rombongan kerajaan Galuh tidak disiapkan untuk perang, melainkan untuk melaksanakan prosesi pernikahan.
Bisa dibayangkan dan dipahami, perang yang dikenal dengan nama perang Bubat itu dimenangkan oleh pasukan Majapahit.
Hampir seluruh pasukan Galuh tewas. Termasuk sang Maharaja Linggwastu, gugur di Medan laya.
Lalu sang putri Raden Ayu Diah Pitaloka rela mengambil jalan pintas dengan menancapkan tusuk konde persis nanclep di ulu ati.
Perawan dari tatar Galuh itu gugur seketika.
Meski menggunakan perangkat seadanya ( belum ada SMS,DM apalagi Wastapp) , informasi kejadian itu sampai juga di Astana Gede pusat perkantoran kerajaan Galuh.
Bisa dibayangkan bagaimana situasi dipusat kerajaan besar di tatar Sunda itu. Dan dalam waktu yang terbilang kilat , tragedi Bubat itu menyebar pula dihampir seluruh pelosok Jawa Barat termasuk kerajaan Pakuan dan Pajajaran di Bogor.
Adapun yang dilakukan di pusat pemerintahan Galuh antara lain penunjukan pemangku jabatan raja yang disebut wali Nagara. Tak lain dan tak bukan yang ditunjuk adalah adik Maharaja Linggwastu yang bernama Prabu Guru Pangandiparanartaatau dikenal juga dengan nama sang Bunisora.
Itu terjadi kerena putera mahkota Niskala Wastukencana baru berusia 9 tahun.
Bunisora menjadi wali Nagara cukup lama, sekitar 14 tahun (1357-1371).
Dilarang kawin sama orang Jawa.
Salah satu keputusan politik yang diambil pemangku jabatan itu , adalah melarang masyarakat Galuh menikah dengan orang Jawa terlebih orang Majapahit.
No way, tidak ada urusan, tidak boleh ora oleh poko’e.
Adapun yang terjadi dengan Hayam Wuruk.
Tentu saja tidak sekedar kaget atas negongnya Mahapatih Gajah Mada. Sang raja muda hanya bisa menangisi calon isteri yang sudah bersimbah darah dan tewas di alun alun Bubat.
Ia juga marah kepada Gajah Mada. Katanya Mahapatih yang gagah perkasa itu dalam tanda kutip dibuang ke daerah Mojokerto. Disana diberi lahan sekitar 20 hektar untuk dikelola sang GM.
Disana pula dalam sepi sendiri GM meninggal pada tahun 1364 dalam usia 74 tahun.
Sementara Hayam Wuruk wafat tahun 1389 dan mengakhiri eksistensi serta kejayaan kerajaan Majapahit selama 2 abad (1292-1527).
Itulah kisah perang Bubat yang penomenal dan high historical itu. ***















