koransakti.co.id- Timnas Iran harus menelan pil pahit di ajang Piala Dunia 2026. Meskipun tampil tanpa kekalahan sepanjang fase grup, skuad asuhan Amir Ghalenoei ini gagal melangkah ke babak 32 besar. Mereka hanya mampu finis di peringkat kesembilan dalam klasemen tim peringkat ketiga terbaik, padahal FIFA hanya menyediakan kuota untuk delapan tim saja.
Selama mengarungi Grup G, Mehdi Taremi dan kawan-kawan mencatat tiga hasil imbang berturut-turut, yaitu saat melawan Selandia Baru (2-2), Belgia (0-0), dan Mesir (1-1). Berkat hasil tersebut, Team Melli mengantongi tiga poin dengan selisih gol nol. Selain Iran, Tanjung Verde juga membukukan tiga hasil imbang, namun mereka lebih beruntung karena lolos sebagai runner-up Grup H.
Drama Menit Akhir yang Menghancurkan Harapan
Nasib tragis Iran di tentukan oleh hasil pertandingan di grup lain. Pada awalnya, posisi Iran sempat aman di peringkat kedelapan saat Aljazair memimpin 3-2 atas Austria di Grup J hingga menit tambahan ketiga. Jika skor tersebut bertahan, Austria akan turun dan Iran yang berhak lolos.
Namun, drama luar biasa terjadi pada menit ke-90+6. Austria secara mengejutkan mencetak gol penyeimbang menjadi 3-3. Gol telat ini langsung mengubah dinamika klasemen, sehingga mendepak posisi Iran hanya dalam waktu kurang dari tiga menit.
Akibat hasil itu, media Inggris The Guardian menyebut Iran sebagai tim dengan perubahan nasib paling kejam di Piala Dunia 2026. Kegagalan ini sekaligus mengulang memori kelam Selandia Baru pada Piala Dunia 2010 silam, di mana sebuah tim harus angkat koper lebih awal meski memegang status tak terkalahkan.
Perjuangan Berat di Luar Lapangan dan Pesan Menyentuh
Sebelum turnamen di mulai, Iran sebenarnya sudah menghadapi badai non-teknis. Masalah visa, jadwal penerbangan yang kacau, hingga akomodasi yang buruk memaksa mereka memindahkan markas ke Tijuana. Alhasil, para pemain harus bolak-balik menyeberangi perbatasan Meksiko dan Amerika Serikat demi menjalani latihan dan pertandingan.
Ketidakberuntungan mereka memuncak pada laga terakhir melawan Mesir. Gol bek Shoja Khalilzadeh di menit-menit akhir pertandingan di anulir oleh VAR karena dianggap offside. Jika gol itu sah, Iran di pastikan mengunci posisi kedua Grup G.
Setelah resmi tersingkir, timnas Iran meninggalkan sebuah surat tulisan tangan yang menyentuh hati di ruang ganti stadion Seattle. Surat tersebut menyuarakan pesan mendalam tentang keadilan, kehormatan, dan esensi dari fair play.
“Kami berasal dari Iran. Dari tanah tempat selama ribuan tahun, kehormatan selalu dijunjung lebih tinggi daripada kemenangan. Bagi kami, sepak bola bukan hanya kompetisi untuk meraih hasil, tetapi juga ujian karakter. Poin dapat di peroleh dengan berbagai cara, tetapi rasa hormat tidak,” bunyi kutipan surat emosional tersebut.
Melalui surat itu, Iran juga berterima kasih kepada kota Seattle dan seluruh suporter setianya, sembari mengingatkan tim-tim lain agar selalu menjunjung tinggi sportivitas tanpa memanipulasi hasil pertandingan. (Fadil)















