koransakti.co.id- Umat Islam di seluruh dunia mengenal Padang Arafah sebagai lokasi inti dari ibadah haji. Banyak orang keliru menganggap bahwa tawaf mengelilingi Ka’bah adalah puncak haji. Padahal, esensi tertinggi dari ibadah ini adalah melaksanakan wukuf di Padang Arafah setiap tanggal 9 Dzulhijjah. Bagi umat Muslim yang tidak sedang berhaji, hari tersebut menjadi momentum spesial untuk menjalankan ibadah sunnah puasa Arafah.
Secara harfiah, wukuf bermakna “berhenti” atau “berdiam diri”. Dalam tata cara haji, wukuf menempati posisi sebagai rukun utama yang wajib jemaah penuhi. Tanpa menghadiri wukuf, seseorang tidak sah menyandang gelar haji.
Rahmat Sunnara dalam bukunya, A-Z Seputar Ibadah Haji dan Umrah, menjelaskan bahwa jemaah haji melakukan wukuf dengan cara berdiam diri, merenungkan dosa, dan memanjatkan doa ampunan dari pagi hari hingga menjelang Maghrib. Begitu malam tiba, mereka akan bergeser untuk bermalam (mabit) di Muzdalifah.
Selain menjadi pusat ibadah, kawasan luas ini menyimpan jejak sejarah Islam yang sangat mendalam.
Asal-usul Nama dan Jejak Cinta Nabi Adam
Kata “Arafah” sendiri berakar dari bahasa Arab, arafa, yang berarti mengerti, tahu, atau paham. Pendapat lain menyebutkan kata ini berasal dari i’tiraf, yang melambangkan momen pengakuan dosa para jemaah saat wukuf.
Sejarah mencatat Padang Arafah sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa setelah Allah menurunkan mereka dari surga secara terpisah. Di tengah padang ini, terdapat sebuah bukit bernama Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang). Para ulama menyepakati bukit ini sebagai simbol bertemunya kembali cinta kasih mereka. Untuk menandai titik bersejarah tersebut, pemerintah setempat membangun sebuah tugu beton persegi empat setinggi 8 meter dengan lebar 1,8 meter.
Saksi Khutbah Perpisahan Rasulullah
Bukan hanya kisah Nabi Adam, Padang Arafah juga menjadi tempat Rasulullah SAW menyampaikan Khutbah Wada (khutbah perpisahan) menjelang akhir hayat beliau.
Kementerian Agama melansir bahwa Padang Arafah merupakan hamparan padang pasir seluas 12 kilometer persegi yang dikelilingi oleh perbukitan. Lokasinya berada sekitar 25 kilometer dari Kota Mekkah. Dengan wilayah seluas itu, kawasan ini mampu menampung hingga 2,5 juta jemaah haji sekaligus.
Di perbatasan Mekkah dan Arafah, berdiri Masjid Namirah yang megah. Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi kini telah memperluas area masjid tersebut menjadi 124.000 meter persegi, sehingga sanggup menampung hingga 300 ribu jemaah yang ingin beribadah. (asep)















