koransakti.co.id- Mitos mengenai Nyi Roro Kidul terus memikat imajinasi masyarakat Indonesia. Meskipun populer dalam cerita rakyat, sejarah keberadaan penguasa Laut Selatan ini sebenarnya berakar pada naskah-naskah kuno yang sarat dengan unsur simbolis. Salah satu sumber tertua yang mencatat namanya adalah Babad Tanah Jawi. Melalui naskah klasik tersebut, figur sakral ini berkembang dari sekadar legenda lokal menjadi bagian penting dari tradisi religi Jawa.
Meskipun banyak ilmuwan telah meneliti keberadaannya, pandangan masyarakat lokal tetap tidak tergoyahkan. Sebagian besar orang Jawa meyakini bahwa Nyi Roro Kidul merupakan sosok nyata yang menjaga ketenteraman Pulau Jawa. Selain itu, terdapat perbedaan pendapat mengenai identitasnya. Sebagian kalangan mempercayai Nyi Roro Kidul sebagai patih, sedangkan Kanjeng Ratu Kidul adalah sang ratu. Namun, naskah kuno Babad Tanah Jawi sebenarnya tidak memisahkan kedua nama tersebut secara spesifik.
Ikatan Mistik dengan Dinasti Mataram
Sejak era Panembahan Senopati, Keraton Mataram menjalin ikatan spiritual yang erat dengan Ratu Laut Selatan. Janji mistis ini mewajibkan para raja keturunan Mataram untuk menjaga hubungan ritual dengan sang ratu. Oleh karena itu, penguasa gaib ini tidak dipandang sebagai sosok jahat, melainkan pelindung spiritual yang menjaga keselamatan keraton dan rakyatnya.
Hingga saat ini, tradisi sakral seperti upacara labuhan di Parangkusumo masih berlangsung secara rutin. Selain Keraton Yogyakarta yang menggelar ritual tersebut, Keraton Surakarta juga mendirikan panggung Sanggabuwana sebagai tempat berkomunikasi dengan Sang Ratu. Sejarawan Prof. Dr. Edi Sedyawati menjelaskan bahwa hubungan antara Raja Jawa dan Ratu Kidul bersifat adikodrati atau spiritual, sehingga hubungan tersebut tidak terikat secara fisik. Sementara itu, sejarawan Suhardjo Hatmosuprobo menambahkan bahwa setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, para raja menetapkan kedudukan Sang Ratu sebagai leluhur (eyang) untuk menjaga penghormatan tradisi.
Dari Komik Hingga Kesaksian Tokoh Bangsa
Popolaritas legenda ini semakin meluas ketika industri komik dan perfilman Indonesia mengangkatnya pada era 1960-an. Visualisasi artistik dalam komik mampu menghidupkan daya fantasi masyarakat mengenai kecantikan Ratu Laut Selatan serta aura mistis kerajaannya.
Menariknya, keyakinan terhadap eksistensi Ratu Laut Selatan tidak hanya hidup di kalangan masyarakat awam. Tokoh bangsa seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX bahkan pernah membagikan pengalaman spiritualnya dalam buku Tahta Untuk Rakyat. Beliau mengisahkan pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Kidul yang parasnya berubah seiring fase bulan—tampak begitu anggun saat bulan naik, dan terlihat seperti wanita tua saat bulan purnama mulai meredup.
Pada akhirnya, Nyi Roro Kidul telah menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya Indonesia. Di antara batas tipis antara mitos, sejarah, dan tradisi, keberadaannya terus hidup mewarnai spiritualitas dan kebudayaan Nusantara. (Asep)















